KONTENSEMARANG.COM – Penanganan kebakaran di Tempat Pemrosesan Akhir (TPA) Jatibarang Semarang dinilai lebih efektif dibandingkan kejadian serupa pada 2023.
Evaluasi dari pengalaman sebelumnya serta dukungan teknologi pemantauan suhu membuat proses pengendalian api kali ini dapat dilakukan lebih cepat.
Wakil Wali Kota Semarang Iswar Aminuddin mengatakan perubahan strategi menjadi salah satu faktor yang mempercepat penanganan kebakaran.
Selain mengandalkan kemampuan tim di lapangan, Pemkot Semarang juga memanfaatkan kamera thermal untuk mendeteksi titik panas yang tersembunyi di balik tumpukan sampah.
Menurut Iswar, perbedaan waktu penanganan terlihat cukup signifikan jika dibandingkan dengan kebakaran TPA Jatibarang pada 2023. Saat itu, proses pemadaman berlangsung lebih dari sebulan, sedangkan dalam kejadian terbaru, bara api di permukaan dapat dikendalikan hanya dalam tiga hari.
“Kalau kita bandingkan dengan 2023, dulu kita baku hantam sampai satu bulan lebih. Alhamdulillah kemarin dalam tiga hari bara api sudah tidak terlihat lagi. Pengalaman dulu jadi pelajaran berharga sehingga metode penyelesaian tim di lapangan sekarang jauh lebih cepat dan berani,” ujar Iswar, Kamis 8 Oktober 2026.
Kecepatan penanganan juga didukung perubahan pola kerja petugas dan operator alat berat. Tim kini lebih berani mendekati area yang dicurigai masih menyimpan pembakaran di bawah permukaan atau sekam.
Iswar menjelaskan, pengalaman dari kejadian sebelumnya membuat petugas memiliki pemahaman yang lebih baik dalam menghadapi bara di bawah timbunan sampah. Penanganan dilakukan dengan mengeruk material, memindahkannya, kemudian melakukan penyiraman secara berulang.
“Dulu kita masih takut mendekati api dengan beko (alat berat). Sekarang teman-teman sudah belajar dan jauh lebih berani. Metodenya langsung garuk, pindahkan, siram. Garuk, pindahkan, siram. Pendekatan taktis ini terbukti sangat cepat memadamkan bara api di bawah tumpukan sampah,” jelasnya.
Selain strategi teknis, penggunaan perangkat thermal menjadi bagian penting dalam mendeteksi titik panas yang tidak terlihat secara kasatmata. Teknologi tersebut memungkinkan petugas mengetahui lokasi yang masih menyimpan panas meskipun permukaannya tampak sudah tidak terbakar.