Menurutnya, wisata perahu tersebut tidak hanya memberikan pengalaman menarik bagi pengunjung, tetapi juga dapat membuka peluang usaha baru bagi nelayan dan warga pesisir.
“Bayangkan jika wisatawan bisa berangkat dari Taman Lele menggunakan perahu menuju Pantai Tirang. Ini bisa menjadi pengalaman wisata yang unik sekaligus memberikan penghasilan tambahan bagi masyarakat sekitar,” jelasnya.
Pilus menilai selama ini perhatian pemerintah lebih banyak tertuju pada penyelenggaraan event pariwisata.
Sementara itu, pengembangan destinasi wisata yang bersifat permanen masih perlu ditingkatkan.
“Event memang penting, tetapi potensi yang sudah ada juga harus dikembangkan. Kalau hanya mengandalkan event, pariwisata akan berjalan di tempat,” tegasnya.
Ia menambahkan, pengembangan kawasan wisata pantai tidak harus dilakukan secara besar-besaran dalam waktu singkat. Pemerintah bisa memulainya secara bertahap sesuai kemampuan anggaran daerah.
“Yang penting ada kemauan dan keseriusan. Tidak harus langsung besar. Bisa dimulai dari pembangunan fasilitas dasar dan penataan kawasan terlebih dahulu,” ujarnya.
Sementara itu, akademisi Universitas Semarang, Desika Nur Jannah, menilai pengembangan wisata pantai harus dibarengi dengan peningkatan infrastruktur penunjang, terutama akses transportasi menuju lokasi wisata.
Menurutnya, keterbatasan akses masih menjadi salah satu faktor yang membuat kunjungan wisatawan ke sejumlah pantai di Semarang belum maksimal.
“Salah satu yang perlu dipikirkan adalah bagaimana transportasi publik bisa menjangkau kawasan pantai. Dengan begitu masyarakat yang tidak memiliki kendaraan pribadi juga bisa berkunjung dengan mudah,” katanya.