Di balik perjuangan memperoleh pengakuan profesi, terdapat cerita panjang para guru PAUD yang tetap mengajar meski menghadapi keterbatasan ekonomi. Salah satunya dialami Afrida Mutoharoh, guru PAUD asal Kecamatan Tuntang.
Selama kurang lebih 20 tahun mengajar, Afrida mengaku hanya menerima honor sekitar Rp100 ribu. Kondisi tersebut membuatnya harus mencari pekerjaan tambahan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.
Ia pernah menjalani berbagai pekerjaan sampingan, seperti berjualan kerupuk secara serabutan, bekerja paruh waktu, hingga memberikan les pada malam hari. Meski menghadapi berbagai keterbatasan, Afrida tetap memilih bertahan di dunia pendidikan anak usia dini.
Kisah tersebut menggambarkan bagaimana guru PAUD terus menjalankan pengabdian untuk mendampingi anak-anak, sementara persoalan kesejahteraan dan pengakuan terhadap status profesi masih menjadi bagian dari perjuangan mereka.
Rangkaian HUT ke-21 HIMPAUDI Kabupaten Semarang turut diisi berbagai kegiatan yang menonjolkan kreativitas dan kebersamaan para pendidik. Kegiatan tersebut antara lain pemutaran video perjuangan guru PAUD, flashmob “Ayo Dolan”, serta tari “Wonderland Indonesia”.
Di tengah perjuangan memperoleh pengakuan dan kesetaraan, para guru PAUD tetap menempatkan pengabdian kepada anak-anak sebagai bagian utama dari perjalanan mereka dalam mendidik generasi sejak usia dini. (*)