Pendekatan tersebut diharapkan membuat investasi tidak hanya terkonsentrasi di kawasan ekonomi yang sudah berkembang, tetapi juga mampu melahirkan pusat-pusat pertumbuhan ekonomi baru di berbagai wilayah.
Pemprov Jateng juga berupaya memastikan perkembangan industri turut membuka ruang bagi pelaku usaha lokal. Salah satu fokusnya adalah mendorong UMKM agar dapat terlibat lebih jauh dalam rantai pasok industri.
Luthfi menyebut Jawa Tengah memiliki sekitar 4,2 juta UMKM skala mikro yang membutuhkan dukungan agar dapat berkembang dan meningkatkan kapasitas usahanya.
“Yang dibutuhkan bukan hanya permodalan dan pemasaran, tetapi bagaimana usaha mikro bisa naik kelas menjadi kecil atau menengah,” katanya.
Sementara itu, Deputi Bidang Perencanaan Penanaman Modal Kementerian Investasi dan Hilirisasi/BKPM, Ichsan Zulkarnaen mengatakan, kebijakan investasi Indonesia ke depan akan semakin diarahkan pada sektor yang mampu menghasilkan nilai tambah lebih besar.
Menurutnya, Jawa Tengah memiliki daya tarik kuat bagi investor karena ditopang kawasan industri, kawasan ekonomi khusus, serta ekosistem usaha yang terus berkembang.
“Jawa Tengah menjadi salah satu pendorong investasi karena memiliki dua kawasan ekonomi khusus dan tujuh kawasan industri, yang beberapa di antaranya sudah memiliki fasilitas KLIK (Kemudahan Investasi Langsung Konstruksi),” katanya. (*)