“Terima kasih dan Alhamdulillah sekali bantuan dari BPBD ini,” ujarnya.
Kesulitan serupa diceritakan Sarno Nanto Suwiryo, warga RT 5 RW 3, yang mengaku upaya pembuatan sumur dalam di wilayahnya selalu gagal dan tidak pernah menghasilkan air tanah.
“Kami hanya mengandalkan tandon air hujan. Kalau habis ya beli air atau menunggu bantuan pemerintah. Terima kasih karena BPBD selalu membantu kami saat kemarau,” ujarnya.
Untuk memastikan pemerataan, Kepala Desa Tlogowatu, Suprat Widoyo, telah menyiagakan bak penampung di setiap RT.
Selain itu, pemerintah juga tengah merancang solusi jangka panjang berupa pembangunan pipa PDAM dari Tangkil ke Tlogowatu yang diproyeksikan mampu mencakup 60-70 persen kebutuhan warga.
“Selama ini memang masih banyak mengandalkan dari bantuan BPBD untuk dropping air bersih ke tempat warga, ataupun ke bak-bak penampungan umum milik desa yang kita sediakan di tiap RT,” jelasnya.
Sementara itu, Kepala Pelaksana BPBD Klaten, Syahruna, menegaskan ada empat desa di Kecamatan Kemalang yang mulai kesulitan air sejak pertengahan Mei, yakni Tegalmulyo, Sidorejo, Tlogowatu, dan Kendalsari.
“Dropping air ini yaitu pertama atas usulan dari desa, kemudian kami menurunkan tim untuk cek kaitannya keberadaan air,” kata Syahruna, di kantornya.
Hingga pertengahan Juli ini, BPBD Klaten telah mengucurkan 1.180.000 liter air bersih melalui 236 tangki. Total ada 1.000 tangki yang disiapkan dari anggaran BPBD dibantu program CSR guna mencukupi kebutuhan warga hingga Oktober mendatang.
“Musim kemarau tahun 2026 ini kemarau panjang, dan dampaknya bukan hanya untuk kekeringan saja termasuk karhutla (kebakaran hutan dan lahan), maka warga agar efisien dalam penggunaan air juga. Dari dampak yang panas sekali juga dari segi kesehatan juga, untuk diantisipasi,” pungkas Syahruna. (*)