KONTENSEMARANG.COM – Prediksi tim peneliti Universitas Diponegoro (UNDIP) mengenai kemunculan fenomena Air Laut Dingin (ALaDin) di Alor Kecil, Kabupaten Alor, Nusa Tenggara Timur, terbukti terjadi bertepatan dengan pembukaan Festival ALaDin 2026, Sabtu (12/9/2026).
Fenomena alam tersebut muncul ketika Wakil Bupati Alor Rocky Winaryo, S.H., M.H. menyampaikan sambutan dalam pembukaan festival.
Kemunculan ALaDin pada momentum tersebut menjadi salah satu contoh penerapan hasil penelitian perguruan tinggi yang dapat dikaitkan dengan pengembangan potensi wisata di daerah.
Festival ALaDin 2026 berlangsung di Desa Alor Kecil, Kecamatan Alor Barat Laut. Kegiatan ini merupakan hasil kerja sama Pemerintah Kabupaten Alor, UNDIP, dan Universitas Tribuana (UNTRIB) melalui Program Hiliriset Sinergi Strategis yang memperoleh pendanaan dari LPDP.
Sejumlah pihak turut hadir dalam kegiatan tersebut, mulai dari perwakilan pimpinan UNDIP dan UNTRIB, jajaran pemerintah daerah, pelaku UMKM, masyarakat hingga tetua adat Alor.
ALaDin merupakan fenomena naiknya massa air laut dari lapisan dalam yang memiliki suhu sangat rendah menuju permukaan. Dalam kajian ilmiah, kondisi tersebut disebut sebagai Extreme Upwelling Event (EUE) dan biasanya berlangsung dalam durasi relatif singkat, sekitar satu hingga dua jam.
Fenomena tersebut ditandai dengan perubahan suhu air laut yang terjadi secara drastis dalam waktu singkat. Ketika ALaDin berlangsung, suhu air laut di kawasan Alor Kecil dapat anjlok hingga sekitar 15 derajat Celsius dalam waktu kurang lebih satu jam.
Penurunan suhu secara cepat itu dapat membuat ikan mengalami kondisi seperti pingsan bahkan mati. Selain itu, fenomena ALaDin juga dapat disertai kemunculan satwa laut seperti lumba-lumba yang naik ke permukaan.
Prediksi mengenai waktu kemunculan fenomena tersebut sebelumnya sempat diragukan. Wakil Bupati Alor mengakui belum sepenuhnya percaya bahwa ALaDin akan muncul sesuai perkiraan tim peneliti UNDIP yang dipimpin Prof. Dr. Sc. Anindya Wirasatriya, S.T., M.Si., M.Sc., dari Program Studi Oseanografi Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan.
Namun, keraguan tersebut berubah setelah ALaDin benar-benar terjadi bertepatan dengan pembukaan Festival ALaDin 2026. Momen itu sekaligus memperkuat keyakinan pemerintah daerah terhadap potensi fenomena tersebut untuk dikembangkan sebagai bagian dari wisata berbasis sains.