Pendanaan kegiatan diperoleh melalui dukungan sponsor, iuran, serta kontribusi dari peserta yang mengikuti kejuaraan.
“Tidak serupiah pun saya keluar uang. Padahal ini turnamennya piala wali kota. Terus yang kedua Pemerintah Kota Semarang juga enggak keluar uang. Jadi duitnya semuanya acara ini dari mana? Ini dari para sahabat, sponsor dan iuran banyak orang dan tentu yang paling besar adalah dari peserta,” tegas Agustina.
Agustina pun menyampaikan apresiasi kepada sponsor, panitia, peserta, komunitas, serta masyarakat yang berkontribusi dalam pelaksanaan turnamen.
Menurutnya, keterlibatan berbagai pihak menjadi bukti bahwa perkembangan olahraga dapat didorong melalui kolaborasi.
Selain mendorong prestasi olahraga, turnamen padel juga dinilai memberikan dampak terhadap aktivitas ekonomi daerah.
Peserta yang datang dari berbagai kota bersama keluarga dan pendamping berpotensi meningkatkan pergerakan sektor perhotelan, kuliner, transportasi, hingga usaha masyarakat.
Kondisi tersebut, lanjut Agustina, menjadi peluang bagi Semarang untuk mengembangkan konsep sport tourism melalui berbagai agenda olahraga.
“Semarang ini punya peluang besar. Ketika orang datang untuk berolahraga, mereka juga akan tinggal, makan, menggunakan transportasi, dan mengenal berbagai hal yang ada di Kota Semarang,” ujarnya.
Agustina berharap kompetisi padel dapat digelar secara berkelanjutan di Kota Semarang. Dengan demikian, semakin banyak masyarakat yang tertarik mengenal dan menekuni olahraga tersebut.
Ia menilai pertumbuhan fasilitas, komunitas, kompetisi, dan pembinaan atlet harus berjalan beriringan agar ekosistem padel di Kota Semarang semakin kuat dan mampu melahirkan atlet berprestasi.