Kondisi ini dinilai meningkatkan potensi terjadinya bencana jika tidak diantisipasi dengan baik.
Kepala BPBD Kota Semarang, Endro Pudyo Martantono, menyebut pola cuaca tahun 2026 tergolong lebih ekstrem dibandingkan tahun sebelumnya.
Perubahan suhu yang drastis hingga hujan mendadak disertai angin kencang menjadi fenomena yang perlu diwaspadai.
“Kalau kita bandingkan dengan 2025, 2026 ini relatif fenomenal sekali. Ini cuaca panas, tiba-tiba nanti menjelang siang atau sore hujan deras disertai dengan angin kencang,” jelasnya.
Berdasarkan informasi dari BMKG, awal musim kemarau diperkirakan mulai pada Mei, meski hingga April masih berpotensi terjadi hujan dan angin kencang.
Sebagai langkah konkret, BPBD telah menyiapkan distribusi air bersih sebanyak 1 juta liter yang akan disalurkan sesuai kebutuhan warga di daerah terdampak.
“Kapanpun permintaan warga, di manapun nanti akan kita kirim sesuai permintaan warga,” kata Endro.
Peningkatan suhu udara sendiri dipengaruhi oleh posisi matahari yang berada dekat garis khatulistiwa serta minimnya tutupan awan, sehingga paparan panas terasa lebih intens di wilayah Semarang.
Berdasarkan peta kawasan rawan bencana, wilayah Rowosari menjadi prioritas utama penanganan kekeringan.
Keterbatasan akses jaringan air bersih menjadi kendala utama di daerah tersebut.