Ia menambahkan bahwa tantangan kebangsaan pada era digital berbeda dengan masa lalu. Jika dahulu ancaman lebih banyak bersifat fisik dan geografis, kini tantangan dapat muncul melalui ruang digital yang menjangkau masyarakat tanpa batas wilayah.
“Nalar kebangsaan hari ini harus mampu hidup di ruang digital. Masyarakat perlu memahami bagaimana menggunakan teknologi secara bijak, menghargai perbedaan pendapat dan tidak mudah terprovokasi oleh informasi yang belum jelas kebenarannya,” ujarnya.
Selain itu, Heri juga mendorong penguatan literasi digital di lingkungan sekolah, perguruan tinggi, komunitas kepemudaan, hingga masyarakat umum.
Menurutnya, kemampuan berpikir kritis dan memverifikasi informasi harus menjadi keterampilan dasar yang dimiliki setiap warga negara.
Tak hanya itu, ia menilai pendidikan karakter dan wawasan kebangsaan perlu terus disesuaikan dengan perkembangan zaman agar lebih dekat dengan kehidupan generasi muda saat ini.
“Nilai-nilai kebangsaan tidak boleh hanya diajarkan di ruang kelas. Nilai tersebut harus hadir dalam kehidupan sehari-hari, termasuk dalam cara kita bermedia sosial, berdiskusi dan menyikapi perbedaan,” katanya.
Heri berharap, kemajuan teknologi dapat menjadi sarana untuk memperkuat persatuan dan memperluas pengetahuan masyarakat, bukan justru memicu perpecahan akibat informasi yang tidak bertanggung jawab.
“Di era informasi tanpa batas, kemampuan yang paling dibutuhkan bukan hanya mengakses informasi, tetapi juga memahami, menilai, dan menggunakannya secara bijak. Di situlah pentingnya nalar kebangsaan sebagai fondasi dalam menjaga persatuan dan masa depan bangsa,” pungkasnya. (*)