“Kalau tempat wisata air yang juga kekinian seperti tubbing dan water boom, juga akan terwujud jika nanti kita menggandeng stakeholder untuk membangun dan dikembangkan di Kota Semarang. Lalu, untuk wisata pantainya ada jetsky atau perahu wisata, dan tersedianya akses penting seperti pelabuhan dan bandara,” jelasnya. Ia menambahkan, Semarang juga perlu rutin menggelar event dan memperkenalkan kuliner khasnya.
Jurnalis Jateng Pos, Sigit Hemawan, menilai Semarang memiliki potensi besar namun masih sering dianggap sebagai kota transit.
Menurutnya, event berskala nasional maupun internasional seperti konser musik dapat menjadi magnet wisatawan.
“Event wisata akan berdampak multiflier effect bagi masyarakat sekitar, UMKM, restoran, hotel, serta kunjungan ke tempat wisata,” katanya.
Sementara itu, jurnalis Halosemarang, Yulianto, menyoroti pentingnya promosi desa wisata yang jumlahnya mencapai 13 lokasi dengan keunikan masing-masing. Ia menekankan peran media dalam memperkuat daya tarik melalui liputan foto dan video.
“Mulai dari pemandangan alam, atraksi seni dan budaya di Kandri, maupun di kawasan Kota Lama lewat Festival Kota Lama, yang juga menjadi salah satu destinasi unggulan dalam kalender event Jawa Tengah 2025,” paparnya.
Dengan kolaborasi yang kuat antara pemerintah, masyarakat, swasta, dan media, Semarang diharapkan mampu menjelma sebagai kota wisata yang tidak hanya menjadi persinggahan, tetapi juga tujuan utama wisatawan.