Program Semarang Bersih dan gerakan Semarang Wegah Nyampah tetap menjadi bagian dari upaya mengubah perilaku masyarakat.
Sementara itu, teknologi pirolisis diarahkan untuk menangani residu yang tidak dapat diselesaikan melalui metode konvensional.
“Teknologi bukan berarti masyarakat boleh berhenti memilah sampah. Semakin maju teknologinya, semakin penting sampah dipilah dari sumbernya. Pengolahan berbasis teknologi disiapkan untuk menangani residu, sementara gerakan Semarang Wegah Nyampah tetap berjalan di hulu. Yang kita bangun adalah sistemnya, bukan hanya mesin,” terangnya.
Pemkot Semarang juga akan memastikan setiap tahapan pengembangan teknologi memperhatikan aspek lingkungan, regulasi, keselamatan, serta keberlanjutan ekonomi daerah.
Agustina menekankan teknologi yang dipilih harus benar-benar mampu menjawab persoalan sampah, bukan sekadar menawarkan inovasi.
“Kita tidak sedang mencari teknologi yang sekadar canggih. Kita mencari teknologi yang benar-benar menyelesaikan masalah. Kalau sampah berkurang, lingkungan lebih baik, dan hasil pengolahannya bisa memberi nilai tambah, itu baru namanya solusi,” ujarnya.
Kolaborasi dengan TNI AD diharapkan mempercepat pembenahan sistem pengelolaan sampah di Kota Semarang.
Upaya tersebut akan dilakukan secara terpadu, mulai dari perubahan perilaku masyarakat, penguatan pemilahan dan pengangkutan, hingga pemanfaatan teknologi untuk mengolah residu.
Dengan pendekatan tersebut, Pemkot Semarang menargetkan penanganan sampah dapat dilakukan secara lebih terukur, aman, dan berkelanjutan. (*)