Wali Kota Semarang, Agustina Wilujeng, menegaskan bahwa Festival Wayang Semesta tidak hanya bertujuan menghadirkan hiburan, tetapi juga sebagai sarana pendidikan karakter dan pelestarian nilai-nilai luhur bangsa.
“Wayang bukan sekadar tontonan, tetapi tuntunan. Melalui Festival Wayang Semesta, kami ingin menghadirkan ruang bagi masyarakat untuk menikmati, belajar, dan bangga terhadap budayanya sendiri,” ujarnya.
Menurutnya, kegiatan ini juga menjadi penggerak ekonomi kreatif lokal yang mampu membuka peluang bagi pelaku seni dan UMKM.
“Ketika kita menghidupkan panggung tradisi, kita juga menghidupkan roda ekonomi kreatif. Semarang punya potensi seni yang luar biasa, dan festival ini menjadi bukti bahwa budaya dan ekonomi bisa tumbuh bersama,” tambahnya.
Festival Wayang Semesta menjadi simbol sinergi antara tradisi dan modernitas, sekaligus ajang kolaborasi lintas generasi, komunitas, akademisi, pelaku usaha, dan media. Pendekatan hexahelix yang diterapkan diharapkan mampu menjadikan Semarang sebagai kota budaya dengan daya saing global.
“Wayang adalah jati diri bangsa. Ketika generasi muda mengenalnya dengan bangga, sejatinya kita sedang menjaga masa depan Indonesia,” tutur Agustina menutup pernyataannya.
Dengan kemasan yang kreatif dan inklusif, Festival Wayang Semesta diharapkan menjadi ikon baru pariwisata budaya Semarang, sekaligus bukti nyata bahwa pelestarian tradisi bisa berjalan seiring dengan pertumbuhan ekonomi kreatif daerah.