Pemanfaatan pekarangan, tanaman obat keluarga (TOGA), pengolahan makanan, pengelolaan sampah hingga Usaha Peningkatan Pendapatan Keluarga (UP2K) dapat menjadi pilihan untuk dikembangkan.
“Banyak hal sederhana yang sebenarnya bisa menjadi sumber ekonomi keluarga. Yang penting ada kemauan untuk memulai, kemudian kita dampingi agar bisa berkembang dan memiliki nilai tambah,” katanya.
Lies berharap pelaksanaan Festival HKG PKK tidak sekadar menjadi agenda tahunan. Menurutnya, berbagai stan dan kegiatan yang ditampilkan dapat menjadi media pembelajaran bagi kader untuk menemukan ide pemberdayaan yang sesuai dengan kondisi wilayah masing-masing.
Ia mengatakan keberhasilan suatu program di satu wilayah dapat diterapkan di daerah lain dengan menyesuaikannya terhadap kebutuhan dan potensi masyarakat setempat.
“Melalui kegiatan seperti ini, kader bisa melihat praktik-praktik baik dari kecamatan lain, kemudian dikembangkan sesuai dengan potensi wilayahnya. Jadi PKK benar-benar menjadi gerakan yang memberikan manfaat langsung bagi keluarga dan masyarakat,” jelas Lies.
Wali Kota Semarang Agustina Wilujeng Pramestuti menilai posisi kader PKK yang bersentuhan langsung dengan masyarakat menjadi kekuatan dalam menjalankan program pemberdayaan.
Menurut Agustina, kader memiliki pemahaman yang lebih dekat mengenai kondisi keluarga dan lingkungan sehingga dapat membantu mengidentifikasi persoalan sekaligus potensi yang bisa dikembangkan.
“Yang membuat mereka bergerak menjaga lingkungannya, menjaga warganya, menjaga seluruh komunitasnya hanya satu. Apa itu? Cinta mereka kepada bangsanya sendiri,” ujarnya didampingi Wakil Wali Kota Semarang Iswar Aminuddin.
Agustina mengatakan upaya meningkatkan perekonomian warga tidak selalu harus dimulai melalui program berskala besar.
Rumah tangga dapat menjadi tempat pertama untuk membangun berbagai kegiatan yang menghasilkan dan bermanfaat bagi keluarga.