Dalam seminar tersebut, My Bumi turut memberikan pemahaman mengenai potensi produk UMKM yang dapat diterima konsumen Eropa, khususnya Belgia.
Pelaku usaha juga dibekali informasi mengenai persyaratan dan standar yang harus dipenuhi agar produk mampu bersaing di pasar internasional.
CEO My Bumi Fatmi Woro Dwi Martanti menjelaskan, kesiapan ekspor tidak hanya ditentukan oleh kualitas produk.
Menurutnya, kemampuan sumber daya manusia, pola pikir, kepemimpinan, serta literasi bisnis juga menjadi faktor penting yang kerap menentukan keberhasilan ekspor.
"Kami memandang tahun 2026 sebagai waktu yang krusial bagi UMKM Indonesia untuk mempersiapkan diri dalam kurun waktu yang tersisa sebelum perjanjian (IEU-CEPA) berlaku efektif, khususnya membenahi kualitas SDM, ketertelusuran rantai pasok, dokumentasi uji tuntas, sertifikasi berkelanjutan dan kepatuhan asal barang," beber Woro yang juga Ketua PPLN Ipemi Belgia.
Sementara itu, dalam sesi Give Your Product a Passport, Expert Eksport European Emmanuel Weitzel memaparkan tiga hal yang menjadi perhatian pembeli Eropa terhadap produk impor, yakni asal produk, proses pembuatannya, serta dampaknya terhadap lingkungan.
"Penting juga transparansi ketertelusuran dan prinsip 'buktikan kebenaran kecil, jangan janjikan kebohongan besar' untuk membedakan produk jujur dari praktik greenwashing," kata dia.
Wakil Wali Kota Semarang Iswar Aminuddin yang turut hadir mengapresiasi langkah IPEMI Jawa Tengah dalam memberikan ruang edukasi dan pendampingan bagi pelaku UMKM agar mampu menembus pasar internasional.
""Nah melalui kegiatan ini, sudah waktunya UMKM kita naik kelas. Kalau sekadar omon-omon, maka UMKM akan gitu-gitu saja. Kalau mau naik kelas ya memang harus ada kegiatan edukasi, pendampingan sepert ini," ujarnya.
Iswar berharap semakin banyak UMKM asal Jawa Tengah dan Kota Semarang yang mampu memasuki pasar Eropa.