Meski begitu, karena biaya perakitannya masih terbilang tinggi, inovasi ini membutuhkan dukungan dari pihak mitra agar bisa diterapkan secara lebih masif.
"Kami tidak hanya memberikan alatnya, tetapi juga mengenalkan energi bersih kepada masyarakat. PLTS menjadi salah satu energi berkelanjutan yang mudah dimanfaatkan dan diharapkan dapat semakin dikenal oleh masyarakat," ujarnya.
Beralih ke Kecamatan Genuk, mahasiswa KKN di sana menghadirkan inovasi Rainwater Harvesting atau alat pemanen air hujan skala domestik.
Langkah ini merupakan strategi mitigasi untuk menekan risiko banjir maupun genangan air di wilayah tersebut.
Surya Setia Rama Mulia Kasta, yang bertindak selaku Koordinator Kecamatan Genuk, menerangkan cara kerjanya.
Air hujan yang turun dari atap disaring terlebih dahulu melalui talang, kemudian dialirkan menuju first flush diverter (pipa pengendap) untuk memisahkan kotoran sebelum air bersihnya masuk ke tangki penampung.
Air yang sudah ditampung tersebut nantinya bisa dipakai lagi untuk keperluan nonkonsumsi rumah tangga, seperti mencuci atau menyiram tanaman.
Dirinya menginginkan sistem sederhana ini bisa dijadikan proyek rujukan yang diaplikasikan di permukiman masyarakat agar mampu mengurangi volume limpasan air hujan, yang selama ini kerap memicu genangan di kawasan Genuk.
"Harapan kami produk ini dapat menjadi pilot project. Jika sistem sederhana seperti ini diterapkan di setiap rumah, limpasan air hujan dapat berkurang karena tidak seluruhnya langsung mengalir ke saluran utama, sekaligus air hujan masih dapat dimanfaatkan kembali," katanya.
Sementara itu di Semarang Utara, tepatnya di Kelurahan Bandarharjo, para mahasiswa KKN membuat alat penyiram tanaman otomatis yang digerakkan oleh Arduino Uno.