SEMARANG โ Banjir rob yang melanda kawasan pesisir Sayung, Kabupaten Demak, masih menjadi persoalan serius hingga hari ini. Genangan air laut pasang yang masuk ke pemukiman warga bahkan meluber hingga jalan raya, dengan ketinggian air bisa mencapai 50 sentimeter, terutama pada malam hari.
Menurut Guru Besar Tata Kota Universitas Diponegoro (Undip), Prof Dr Ing Wiwandari Handayani ST MT MPS, satu-satunya solusi paling efektif dan cepat untuk mengatasi banjir rob adalah pembangunan tanggul laut.
โHanya tanggul laut yang mampu menahan air pasang yang semakin ekstrem, akibat dampak dari perubahan iklim global,โ kata Prof Wiwandari.
Pemerintah pusat kini tengah mengakselerasi proyek tanggul laut yang terintegrasi dengan Jalan Tol Semarang-Demak. Pembangunan tersebut ditargetkan rampung pada tahun 2027, dan diharapkan dapat meredam banjir rob secara signifikan di wilayah Pantura Jawa Tengah.
Meski demikian, Prof Wiwandari menegaskan bahwa masyarakat belum bisa langsung merasakan dampak dari pembangunan tersebut dalam waktu dekat.
โProses konstruksi masih berjalan. Namun, pembangunan tanggul laut ini menjadi bagian penting dari strategi jangka panjang penanganan rob,โ lanjutnya.
Di luar pembangunan fisik, Wiwandari juga mendorong masyarakat untuk aktif menjaga lingkungan pesisir, misalnya melalui penanaman mangrove dan pengembangan sektor perikanan berkelanjutan.
Ia pun mengapresiasi program Mageri Segoro yang digagas Gubernur Jawa Tengah Ahmad Luthfi dan Wakil Gubernur Taj Yasin, berupa penanaman 1,5 juta pohon mangrove di lahan seluas 150 hektare sepanjang Pantura Jawa Tengah.
โPenanaman mangrove sangat penting untuk memulihkan ekosistem pesisir yang rusak akibat abrasi dan dampak perubahan iklim,โ ujarnya.
Wiwandari mengingatkan bahwa laju perubahan iklim dan pembangunan kawasan terus berlangsung. Oleh karena itu, keterlibatan masyarakat menjadi kunci dalam upaya menjaga keberlanjutan lingkungan.