"Kalau ketahanan pangan kita siap, ekonomi enggak bisa digoyang, enggak bisa diintervensi oleh negara manapun," tegasnya.
Di sisi lain, Ketua SGN Pusat, Muhammad Chamzah Hasan, mengungkapkan bahwa program pemberdayaan di lahan 57 hektare ini merupakan realisasi dari arahan Wagub agar santri dapat hadir memberi dampak langsung.
"Santri Gayeng berada di depan sebagai fasilitator, tetapi yang merasakan manfaatnya adalah masyarakat, terutama kelompok tani. Dari masyarakat dan kembali untuk masyarakat," ujarnya.
Sementara itu, Sekretaris Dinas Pertanian dan Peternakan Jawa Tengah, Himawan Wahyu, memaparkan bahwa konsep hulu ke hilir di kawasan ini sangat beragam.
Selain jagung, lahan akan ditanami cabai, padi, kembang kol, serta pohon produktif seperti durian dan alpukat.
Sistem peternakan kambing silvopastura juga akan diterapkan agar limbahnya bisa didaur ulang menjadi pupuk organik.
Sebagai bentuk dukungan swasembada, Himawan memastikan Pemprov Jateng juga telah mengalokasikan program perluasan lahan jagung seluas 3.200 hektare pada tahun 2026, yang salah satunya difokuskan di Kabupaten Banjarnegara. (*)