“Jika hasilnya positif, belum tentu itu keganasan. Bisa saja hanya peradangan yang masih dapat diobati,” katanya.
Program ini diharapkan menjadi langkah awal dalam menekan angka kanker leher rahim melalui deteksi dini, sehingga penanganan bisa dilakukan lebih cepat dan tidak terlalu berat.
“Jika terdeteksi lebih awal, penanganannya bisa lebih ringan, misalnya cukup dengan kemoterapi tanpa harus radioterapi,” ungkapnya.
Hakam menambahkan, kasus kanker pada perempuan di Semarang masih didominasi kanker payudara, disusul kanker leher rahim.
Selain itu, pemeriksaan tuberkulosis (TBC) juga menjadi bagian dari program ini melalui layanan rontgen dada menggunakan alat X-ray portabel.
Pemeriksaan difokuskan di enam puskesmas, yakni wilayah Ngaliyan, Gunungpati, Lebdosari, Bandarharjo, Mangkang, dan Rowosari.
Menurutnya, skrining ini penting karena banyak penderita TBC tidak menunjukkan gejala pada tahap awal.
“Sering kali pasien tidak menyadari, tiba-tiba berat badan turun. Itu perlu diwaspadai,” ujarnya.
Sebagai langkah pencegahan jangka panjang, vaksinasi HPV juga telah diberikan kepada siswi SD dan SMP di Kota Semarang dalam dua tahun terakhir.
Selain itu, edukasi terkait kesehatan reproduksi terus digencarkan melalui sekolah.