Gus Yasin menambahkan, semarak Pawai Ta'aruf menunjukkan bahwa MTQ dapat menjadi wadah kebersamaan tanpa membedakan suku, ras, maupun agama.
"Ini kita tahu bahwa ini adalah sebuah keberkahan buat kita bersama, tidak melihat suku, ras, agama, semuanya kumpul, kita bersatu," katanya.
Pesan persatuan tersebut juga tercermin dalam tema yang dibawa defile Jawa Tengah, yakni "Gumreget Nyawiji".
Bagi peserta, Pawai Ta'aruf bukan sekadar perjalanan menuju lokasi kegiatan. Ajang tersebut sekaligus dimanfaatkan untuk memperkenalkan kekayaan budaya daerah masing-masing kepada masyarakat yang menyaksikan.
Kafilah Papua Tengah, misalnya, mengikutsertakan sekitar 100 anggota dalam rombongan. Sebanyak 28 orang di antaranya turun dalam Pawai Ta'aruf dengan mengenakan pakaian adat dan membawa ornamen khas Papua Tengah.
Ketua Kafilah Papua Tengah Wahyu Budi Santoso mengatakan, pihaknya sengaja menampilkan pakaian adat Papua Tengah, termasuk simbol burung cenderawasih yang menjadi salah satu identitas khas Papua.
"Ya, dalam kegiatan pawai ta'aruf kami menampilkan pakaian adat-adat di Papua Tengah," katanya.
Peserta dari Papua Tengah, Emi Titin Indrawati, menjelaskan pakaian dan perlengkapan yang digunakan rombongannya merepresentasikan kebudayaan Kabupaten Mimika serta sejumlah suku di Papua Tengah.
"Ini pakaian baju adat Kamoro Amungme dari Papua Tengah, dan Damal dan sebagainya, tujuh suku di sana," ujarnya.
Sejumlah perlengkapan budaya juga dibawa dalam pawai, di antaranya tifa, topi Papua dengan ornamen khas, rumbai, dan tongkat.