UNDIP juga berencana melakukan uji coba padi merah yang memiliki kandungan nutrisi dan serat tinggi serta dinilai sesuai untuk dikembangkan bagi kebutuhan penderita diabetes.
“Harapannya, uji coba ini dapat berhasil dan berproduksi optimal hingga menjadi model pengembangan pertanian yang produktif, efisien, dan ramah lingkungan,” ujar Prof. Puryono.
Wakil Rektor II UNDIP bidang Perencanaan, Keuangan, Aset, Bisnis dan Kerumahtanggaan, Dr. Warsito Kawedar, S.E., M.Si., Akt., mengatakan pengembangan sawah modern tersebut memiliki fungsi yang lebih luas daripada sekadar menghasilkan komoditas pertanian.
Menurutnya, kawasan KHDTK Penggaron diarahkan menjadi tempat pembelajaran dan penelitian pertanian.
Lahan produktif tersebut juga berpotensi dikembangkan bersama wisata alam melalui konsep edu-ekowisata hutan.
“Diharapkan kawasan KHDTK UNDIP di Penggaron dapat berkembang menjadi edu-ekowisata hutan,” ujarnya.
Untuk mendukung konsep tersebut, UNDIP akan menggandeng komunitas jeep yang berada di sekitar kawasan.
Penggabungan sektor pertanian, pendidikan, penelitian, dan wisata diharapkan mampu memberikan nilai tambah bagi KHDTK Penggaron.
Keterlibatan masyarakat sekitar juga menjadi bagian penting dalam pengembangan kawasan. UNDIP menegaskan bahwa keberadaan kampus di KHDTK Penggaron diharapkan dapat berjalan berdampingan dengan masyarakat.
“Kehadiran UNDIP adalah berdampingan dengan masyarakat. Masyarakat adalah keluarga,” imbuhnya.