Karena itu, ia mendorong agar Indonesia mulai meningkatkan kapasitas untuk menghasilkan teknologi AI sendiri, bukan hanya menjadi pasar bagi produk dan layanan yang sudah tersedia.
“Jangan menjadikan Indonesia terus-menerus sebagai pengguna AI. Saya mendorong orang-orang di Indonesia mulai melihat bagaimana AI itu dibuat, bukan hanya bagaimana AI itu dipakai,” tegasnya.
Campus Director BINUS @Semarang, Dr. Fredy Purnomo, S.Kom., M.Kom., menyampaikan bahwa pembukaan program AI merupakan bagian dari strategi BINUS dalam mempersiapkan talenta muda menghadapi perubahan kebutuhan industri.
“Di titik ini kita berada di persimpangan, apakah kita ingin hanya menjadi pengguna atau menjadi pelaku, pengguna konsumtif atau menjadi produsen,” kata Fredy.
Ia mengatakan program tersebut diarahkan untuk menghasilkan lulusan yang tidak hanya terampil memanfaatkan teknologi AI, tetapi juga mampu memahami proses pengembangan hingga menciptakan teknologi berbasis kecerdasan buatan.
“BINUS ingin menciptakan anak-anak muda yang siap memproduksi AI, bukan hanya menggunakan. Sekali lagi, supaya kita tidak menjadi bangsa yang konsumtif, tetapi juga produktif di bidang AI,” ujarnya.
Program studi tersebut mulai diterapkan bagi mahasiswa yang memasuki tahun akademik 2026. Para lulusan nantinya diharapkan memiliki kompetensi yang sesuai dengan kebutuhan dunia kerja yang semakin banyak bersinggungan dengan teknologi AI.
Fredy menambahkan, pola pendidikan di tengah perkembangan AI tidak bisa hanya mengandalkan kemampuan menghafal. Kemudahan memperoleh informasi membuat kemampuan mengolah informasi, berpikir kritis, menghasilkan gagasan, serta berkreasi menjadi semakin penting.
Ia mengibaratkan AI sebagai co-pilot yang dapat membantu manusia dalam berbagai aktivitas belajar maupun pekerjaan. Meski demikian, manusia tetap harus menentukan arah, tujuan, gagasan, serta keputusan yang diambil.
“Bagaimana kita bersikap terhadap AI? Kita harus berperan sebagai pilot. Biarkan AI menjadi co-pilot, tetapi kita tetap sebagai talent-nya,” jelasnya.