Pemanfaatan AI juga mulai diarahkan dalam kegiatan pembelajaran di lingkungan kampus. Mahasiswa diperbolehkan menggunakan teknologi tersebut untuk membantu menyelesaikan tugas, tetapi tetap diminta mengedepankan proses berpikir dan kreativitas pribadi.
“Silakan menggunakan AI untuk tugas-tugas di kampus, tetapi tolong pikirkan dan buat konsep kreatifnya terlebih dahulu. Setelah itu AI yang membantu,” katanya.
Prof. Derwin menuturkan bahwa literasi mengenai AI tidak hanya dibutuhkan mahasiswa yang mengambil bidang komputer.
Perkembangan teknologi tersebut diperkirakan akan terus memengaruhi berbagai sektor sehingga pemahaman mengenai penggunaan, cara kerja, hingga dampaknya menjadi semakin diperlukan.
Salah satu aspek yang menjadi perhatian adalah pengelolaan data dan keamanan. Pemahaman dasar mengenai AI dapat membantu pengguna mengetahui bagaimana data diproses serta berbagai hal yang perlu diperhatikan ketika memanfaatkan teknologi tersebut.
Karena itu, program pendidikan AI diharapkan dapat ikut membentuk ekosistem talenta yang memiliki kemampuan untuk memahami sekaligus mengembangkan kecerdasan buatan.
“Semua sektor penting. Kalau kita tidak mengerti AI dan bagaimana cara kerjanya, kita akan terus-menerus menjadi pengguna,” ujarnya.
BINUS University Semarang berharap program AI tersebut dapat menjadi salah satu pilihan pendidikan bagi siswa SMA yang ingin mempersiapkan kompetensi menghadapi perubahan dunia kerja. BINUS menargetkan 30-40 mahasiswa baru dapat bergabung pada tahun pertama program tersebut.
Seiring pemanfaatan AI yang semakin meluas, kehadiran pendidikan khusus di bidang ini diharapkan mampu menghasilkan talenta yang tidak hanya adaptif dalam menggunakan teknologi, tetapi juga memiliki kemampuan menciptakan inovasi dan solusi berbasis kecerdasan buatan dari Indonesia. (*)