Menurutnya, sejumlah bidang perlu terus diawasi untuk mencegah munculnya persoalan integritas, termasuk proses pengadaan, pengisian jabatan, hingga penerimaan mahasiswa melalui jalur mandiri.
“Ini bukan kesalahan siapa-siapa. Memang secara nasional ada satu masa SDM-nya pensiun bersama-sama. Kemudian pengadaan dosen secara nasional kita juga lebih dari 10 tahun tidak mendapat PNS,” ujarnya.
Penguatan sistem dan tata kelola pun dinilai menjadi bagian penting agar perguruan tinggi dapat menjalankan seluruh proses secara transparan dan akuntabel.
Dalam sesi tanya jawab, salah satu peserta, dr Ainun, mengajukan pertanyaan mengenai upaya KPK mempertahankan independensi di tengah perkembangan dinamika politik dan hukum.
Pertanyaan tersebut juga dikaitkan dengan pentingnya menjaga kepercayaan publik terhadap integritas lembaga dan profesi.
Menjawab hal itu, Fitroh mengingatkan pentingnya setiap individu memegang prinsip dan menjaga niat ketika menghadapi berbagai kondisi.
Ia juga mengingatkan agar seseorang tidak mudah merasa paling tahu atau paling pintar karena hal tersebut dapat berujung pada kesombongan dan sikap merendahkan orang lain.
Sebaliknya, ia mendorong setiap orang untuk terus belajar dan mampu beradaptasi menghadapi perubahan.
“Jangan jadi orang yang merasa pintar, tapi jadilah orang yang pintar merasa. Kita harus bisa menyesuaikan diri. Kalau bahasa anak muda, bisa berselancar menghadapi keadaan, bukan melawannya,” tuturnya.
Fitroh kembali menekankan bahwa niat menjadi salah satu hal yang penting dalam menjalankan tugas. Menurutnya, sebuah tindakan tidak selalu dapat dinilai hanya berdasarkan apa yang terlihat karena tujuan di balik tindakan juga memiliki peran.