Pada masa awal pengoperasiannya, ABL-9000 digunakan untuk menunjang layanan kereta ekspres di sejumlah rute. Di antaranya adalah Jakarta–Surabaya, Jakarta–Semarang, Jakarta–Yogyakarta, serta Jakarta–Bandung.
Kereta seri tersebut juga memiliki catatan dalam sejarah nasional. ABL-9000 pernah digunakan untuk mendukung perjalanan para peserta Konferensi Asia-Afrika pada 1955.
Seiring perubahan zaman, sebagian kereta ABL-9000 mengalami perubahan fungsi. Beberapa di antaranya dikonversi menjadi kereta kelas ekonomi. Selanjutnya, sebagian kereta tersebut kembali dikonversi menjadi kereta kelas eksekutif pada dekade 1990-an dan digunakan untuk layanan KA Argo Lawu.
“Yang kami hadirkan hari ini bukan sekadar tampilan livery lama. Ada cerita panjang di baliknya. Kereta yang dahulu menjadi bagian dari perjalanan penting pada masanya, kini inspirasinya hadir kembali melalui rangkaian KA Argo Merbabu dalam momentum HUT ke-81 KAI,” jelas Luqman.
Ketika Sejarah Kereta Api Bertemu Sastra
Perayaan HUT ke-81 KAI di Daop 4 Semarang tidak hanya menampilkan kembali sejarah melalui rangkaian kereta. Perspektif lain mengenai perjalanan kereta api juga dihadirkan melalui pembacaan puisi “Di Stasiun Tawang” karya Louis-Philippe Dalembert.
Pembacaan puisi tersebut menjadi bagian dari kolaborasi bersama Triyanto Triwikromo, sastrawan sekaligus akademisi Universitas Diponegoro, serta Ucik Fuadhiyah, dosen Pendidikan Bahasa dan Sastra Jawa Universitas Negeri Semarang yang juga merupakan sastrawati dan peneliti.
Pemilihan Stasiun Tawang sebagai lokasi pembacaan puisi memiliki makna tersendiri. Stasiun Semarang Tawang telah berdiri sejak 1914 dan menjadi salah satu bangunan bersejarah di Kota Semarang. Hingga saat ini, stasiun tersebut masih menjadi bagian dari aktivitas perjalanan kereta api.
Melalui pembacaan puisi, Stasiun Tawang tidak hanya dimaknai sebagai tempat kereta datang dan berangkat. Stasiun juga menjadi ruang yang menyimpan beragam cerita manusia, mulai dari perjalanan, pertemuan, perpisahan, kota, hingga perubahan zaman.
Bagi KAI Daop 4 Semarang, kehadiran puisi “Di Stasiun Tawang” melengkapi cerita yang dibawa melalui vintage livery KA Argo Merbabu.
Vintage livery menghadirkan kembali gambaran kereta dari masa lalu, sedangkan puisi menghadirkan cerita serta rasa yang tumbuh di sekitar perjalanan kereta api.