Tidak hanya berfokus pada produksi film, pengembangan sumber daya manusia, peluang berkarya, pariwisata, perhotelan, hingga kenyamanan lingkungan kota juga menjadi faktor pendukung pertumbuhan industri tersebut.
Melalui LOFF, Pemerintah Kota Semarang ingin memperluas kesempatan bagi generasi muda untuk menuangkan gagasan dan menghasilkan karya yang mampu bersaing.
Festival ini juga diharapkan menjadi wadah yang mempertemukan sineas daerah dengan para profesional perfilman nasional untuk membuka peluang kerja sama.
Kolaborasi tersebut diharapkan dapat menciptakan lingkungan kreatif yang mendukung perkembangan talenta lokal. Dengan semakin banyaknya ruang berkarya dan kesempatan produksi, Semarang berpeluang tumbuh sebagai salah satu pusat pengembangan kreativitas perfilman.
Sutradara Hanung Bramantyo memberikan apresiasi terhadap film-film yang ditampilkan dalam LOFF 2026, khususnya karya yang dibuat oleh pelajar. Ia mengaku terkesan dengan kemampuan siswa SMA dalam mengolah ide menjadi sebuah film yang menarik.
“Untuk kategori pelajar, kami sangat terkejut. Mereka masih SMA, tetapi sudah bisa membuat film yang bagus. Kalau dibandingkan dengan zaman saya SMA, membuat film itu sebuah kemewahan karena kamera dan bahan bakunya mahal,” ungkap Hanung.
Menurut Hanung, kemudahan akses terhadap teknologi produksi saat ini memberikan kesempatan lebih besar bagi anak muda untuk mengembangkan kemampuan di bidang perfilman.
Perkembangan tersebut memungkinkan generasi muda mencoba berbagai teknik dan menyampaikan ide melalui medium film.
Ia berharap festival seperti LOFF dapat meningkatkan keberanian anak muda dalam menyampaikan gagasan, mencoba pendekatan baru, dan menciptakan karya berdasarkan sudut pandang mereka sendiri.
Partisipasi dalam festival juga dapat menjadi pengalaman berharga bagi pelajar yang ingin menekuni industri perfilman secara profesional.