KONTENSEMARANG.COM — Penguatan budaya literasi di Kota Semarang terus dikembangkan melalui berbagai program yang mendorong masyarakat tidak hanya gemar membaca, tetapi juga mampu menghasilkan karya.
Strategi tersebut dipaparkan Wali Kota Semarang sekaligus Bunda Literasi, Agustina Wilujeng, dalam Sesi NGOPI (Ngobrol Pintar) pada Gala Dinner Rapat Kerja Nasional (Rakernas) XXVI Ikatan Pustakawan Indonesia (IPI) 2026 di Hotel MG Setos, Selasa (6/10).
Forum tersebut mempertemukan pengurus IPI dari berbagai daerah, pustakawan, akademisi, hingga praktisi literasi. Dalam kesempatan itu, Agustina menekankan bahwa literasi memiliki cakupan yang lebih luas daripada sekadar aktivitas membaca.
"Jadi kalau ditanya bagaimana mengembangkan literasi di Kota Semarang, ya setiap kali kita tarik napas semuanya harus proses literasi. Karena literasi itu tidak hanya membaca ya, tetapi memahami segala sesuatunya dan mengubahnya menjadi sesuatu yang bermanfaat," tegas Agustina.
Salah satu upaya yang dilakukan Pemkot Semarang untuk mendekatkan literasi dengan masyarakat yakni melalui Roadshow Bunda Literasi atau Semarang Bertutur.
Program yang dimulai pada 28 Agustus 2025 tersebut menggunakan metode storytelling interaktif dan hingga 30 September 2026 telah menyambangi 15 lokasi, termasuk PAUD, SD, SMP, SMK, serta pondok pesantren.
Penguatan budaya membaca juga dilakukan dengan memperpanjang waktu pelayanan perpustakaan daerah hingga pukul 21.00 WIB. Selain itu, Pemkot Semarang mendorong pelajar untuk menghasilkan karya melalui gerakan menulis cerita pendek dengan mengangkat tema lokalitas.
Karya-karya terbaik siswa tidak hanya dibukukan, tetapi juga diterjemahkan ke bahasa Inggris dan didistribusikan ke sejumlah perpustakaan. Beberapa karya bahkan dikembangkan lebih lanjut menjadi film pendek sehingga produk literasi dapat menjangkau masyarakat dalam bentuk yang lebih beragam.
Program literasi Semarang juga mulai diperkenalkan melalui kerja sama internasional. Salah satunya melalui Residensi Silang Rimbaud yang merupakan kolaborasi Pemkot Semarang dengan Kedutaan Besar Prancis, Institut français d’Indonésie, Alliance Française Semarang, dan Cité internationale de la langue française.
Program tersebut menghadirkan penulis asal Prancis Louis-Philippe Dalembert untuk menjalani residensi selama tiga bulan di Kota Semarang, mulai September hingga November 2026.
Dalam pengembangan ekosistem literasi, Agustina turut menekankan pentingnya kontribusi pustakawan.
Menurutnya, tugas pustakawan bukan hanya mengelola koleksi buku, tetapi juga menjadi jembatan antara pengetahuan dan masyarakat melalui rekomendasi bacaan, kegiatan literasi, serta pendampingan bagi anak-anak.
"Pustakawan itu mirip perpustakaan yang hidup. Melalui buku yang direkomendasikan, pengetahuan yang dibagikan, dan kegiatan yang membuka wawasan, pustakawan ikut membentuk cara berpikir generasi masa depan," ujar Agustina.
Ia juga mendorong keterlibatan komunitas dalam memperluas gerakan literasi. Menurutnya, energi dan kreativitas komunitas dapat menjadi kekuatan untuk membuat kegiatan literasi lebih dekat dengan kalangan anak muda.
"Sinergi antara pustakawan dan komunitas itu bukan sekadar membuat acara, tetapi bagaimana bersama-sama menciptakan ekosistem di mana anak muda merasa bahwa literasi itu keren, dekat dengan mereka, dan punya dampak nyata," tambahnya.
Di sisi lain, tata kelola bidang literasi dan kearsipan Kota Semarang turut mendapat apresiasi dari Pemerintah Provinsi Jawa Tengah. Pemkot Semarang menerima Penghargaan Pengawasan Kearsipan Provinsi Jawa Tengah Tahun 2026 Kategori AA atau "Sangat Memuaskan".
Penghargaan tersebut diserahkan Gubernur Jawa Tengah Ahmad Luthfi dalam Rakor Pengawasan Kearsipan di Gedung Gradhika Bhakti Praja, Semarang, Selasa (6/10).
“Penghargaan ini tentu patut kita syukuri tapi tidak menjadikan kita berpuas hati. Seterusnya kita harus memperkuat budaya literasi ini,” pungkasnya. (*)