Dalam pengembangan ekosistem literasi, Agustina turut menekankan pentingnya kontribusi pustakawan.
Menurutnya, tugas pustakawan bukan hanya mengelola koleksi buku, tetapi juga menjadi jembatan antara pengetahuan dan masyarakat melalui rekomendasi bacaan, kegiatan literasi, serta pendampingan bagi anak-anak.
"Pustakawan itu mirip perpustakaan yang hidup. Melalui buku yang direkomendasikan, pengetahuan yang dibagikan, dan kegiatan yang membuka wawasan, pustakawan ikut membentuk cara berpikir generasi masa depan," ujar Agustina.
Ia juga mendorong keterlibatan komunitas dalam memperluas gerakan literasi. Menurutnya, energi dan kreativitas komunitas dapat menjadi kekuatan untuk membuat kegiatan literasi lebih dekat dengan kalangan anak muda.
"Sinergi antara pustakawan dan komunitas itu bukan sekadar membuat acara, tetapi bagaimana bersama-sama menciptakan ekosistem di mana anak muda merasa bahwa literasi itu keren, dekat dengan mereka, dan punya dampak nyata," tambahnya.
Di sisi lain, tata kelola bidang literasi dan kearsipan Kota Semarang turut mendapat apresiasi dari Pemerintah Provinsi Jawa Tengah. Pemkot Semarang menerima Penghargaan Pengawasan Kearsipan Provinsi Jawa Tengah Tahun 2026 Kategori AA atau "Sangat Memuaskan".
Penghargaan tersebut diserahkan Gubernur Jawa Tengah Ahmad Luthfi dalam Rakor Pengawasan Kearsipan di Gedung Gradhika Bhakti Praja, Semarang, Selasa (6/10).
“Penghargaan ini tentu patut kita syukuri tapi tidak menjadikan kita berpuas hati. Seterusnya kita harus memperkuat budaya literasi ini,” pungkasnya. (*)