Sementara untuk GPM Serentak tingkat RW yang berlangsung selama Agustus, pelaksanaan program telah menjangkau 729 RW dari total 1.532 RW. Komoditas yang disalurkan antara lain 80 ton beras SPHP, 35.040 liter minyak goreng, serta berbagai kebutuhan pokok lainnya.
Selain memperluas akses pangan murah, Pemkot Semarang juga mendorong ketahanan pangan berbasis keluarga. Salah satunya melalui program Bulir Padi atau Budi Daya Pekarangan Pangan dan Gizi.
Program tersebut mengajak masyarakat mengoptimalkan lahan di sekitar rumah untuk menghasilkan bahan pangan, termasuk menanam tanaman pangan, membangun kolam lele, hingga memelihara ayam petelur di lingkungan RT/RW.
“Kita perlu membangun 'rumah pangan' mandiri dari tingkat keluarga untuk mengantisipasi potensi gejolak maupun tantangan ekonomi di masa depan,” jelas Agustina.
Upaya tersebut mendapat respons positif dari Bank Indonesia. Deputi Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Jawa Tengah Andi Reina Sari menilai Kempling Semar menjadi inovasi yang mampu mendekatkan distribusi pangan kepada masyarakat.
“Kami mengapresiasi komitmen Kota Semarang yang konsisten melakukan langkah nyata dalam menjaga stabilitas pasokan dan keterjangkauan harga. Kempling Semar menjadi bentuk intervensi yang tepat waktu dan langsung dirasakan masyarakat,” puji Andi. (*)