Agustina menilai keterlibatan berbagai elemen masyarakat penting agar pelaksanaan MTQ tidak hanya dirasakan oleh para peserta, tetapi juga menjadi bagian dari kehidupan warga Semarang.
“MTQ harus menjadi milik bersama. Anak-anak, pelajar, seniman, komunitas, masyarakat, dan para kafilah dari berbagai daerah semuanya harus bisa merasakan semangat MTQ. Kita ingin Al-Qur’an hadir melalui kompetisi, seni, literasi, kreativitas, dan kegiatan yang dekat dengan masyarakat,” katanya.
Kegiatan seni Islami juga diwujudkan melalui Lomba Rebana Tingkat Nasional yang dijadwalkan berlangsung pada 16–17 September 2026 di Taman Budaya Raden Saleh (TBRS).
Agustina menyebut rebana memiliki keterkaitan erat dengan tradisi masyarakat Muslim di Indonesia. Selain menjadi bentuk ekspresi seni dan budaya, kesenian tersebut dinilai dapat menjadi ruang pertemuan bagi kelompok masyarakat dari berbagai daerah.
“Rebana adalah bagian dari tradisi keislaman yang tumbuh kuat di tengah masyarakat. Melalui Lomba Rebana Tingkat Nasional, kita ingin memberikan ruang bagi seni Islami untuk berkembang sekaligus mempertemukan kelompok-kelompok dari berbagai daerah. Ada silaturahmi, ada kreativitas, dan ada semangat untuk bersama-sama menjaga tradisi,” ungkapnya.
Berbagai kegiatan tersebut menjadi bagian dari strategi Semarang dalam menyambut kedatangan kafilah dan tamu MTQ Nasional XXXI. Tradisi lokal, seni Islami, literasi, serta kreativitas masyarakat dikemas dalam satu rangkaian untuk menghidupkan atmosfer MTQ di sejumlah ruang kota.
Agustina pun mengajak masyarakat ikut berpartisipasi dan memeriahkan seluruh rangkaian kegiatan bersama para kafilah serta tamu dari berbagai daerah.
“Kami ingin MTQ Nasional XXXI meninggalkan kesan yang baik. Semarang adalah kota yang religius, terbuka, kaya budaya, kreatif, dan ramah kepada siapa pun. Monggo, sedulur-sedulur dari seluruh Indonesia datang ke Semarang. Kita sambut bersama MTQ ini dengan kegembiraan, persaudaraan, dan kebanggaan sebagai bagian dari Indonesia,” pungkasnya. (*)