Keterlibatan tokoh masyarakat juga menjadi bagian penting dalam pelaksanaan program ini, guna memastikan bantuan tepat sasaran.
“Ya, tentunya kami melibatkan tokoh masyarakat, seperti Gus Nova di Tembalang. Kami bekerja sama bagaimana bisa hadir memberikan manfaat untuk masyarakat,” tambahnya.
Endro juga membuka peluang bagi masyarakat di wilayah lain yang ingin menghadirkan program serupa. Menurutnya, aspirasi warga akan menjadi dasar penentuan lokasi kegiatan berikutnya.
“Dengan sangat senang hati. Selama tidak ada pengajuan, kami juga mendasarkan dari informasi struktur di bawah. Di mana ada masyarakat yang mengalami kesulitan, di situ kami akan hadir,” katanya.
Ia menegaskan, Dapur Marhen merupakan wujud pengabdian kepada rakyat, bukan sebagai bentuk persaingan dengan pihak lain.
“Kami fokus dengan apa yang kami lakukan sendiri. Kami tidak membandingkan atau menyaingi program lain. Kami hadir dari rakyat kecil, kaum marhaen, maka kami melakukan ini bukan karena program dari pihak lain,” tandasnya.
Sementara itu, Anggota DPR RI, Samuel J.D. Wattimena, memberikan apresiasi terhadap pelaksanaan program tersebut. Ia menilai Dapur Marhen tidak hanya menjawab kebutuhan fisik masyarakat, tetapi juga berpotensi mendukung pembangunan mental dan budaya.
“Saya terima kasih sekali diajak ke Pesantren Soko Tunggal. Saya juga setuju bahwa Dapur Marhen ini adalah dukungan bagi sesuatu yang sifatnya fisik, jasmani,” ujarnya.
Sebagai anggota Komisi VII DPR RI, Samuel menekankan pentingnya keseimbangan antara pembangunan fisik dan kejiwaan.
“Saya di Komisi VII akan masuk dari sisi dukungan yang bersifat kejiwaan. Karena pembangunan fisik dengan pembangunan jiwa harus berjalan seimbang,” katanya.