Ahsan menjelaskan kebutuhan pemeliharaan sekolah bersifat berkelanjutan karena kerusakan dapat muncul seiring usia bangunan.
Dari sekitar 325 sekolah dasar negeri di Kota Semarang, pemeliharaan dan perbaikan perlu dilakukan secara bertahap.
“Setelah satu sekolah selesai diperbaiki, sekolah lain mulai membutuhkan pemeliharaan. Karena itu, program rehabilitasi akan terus berlanjut,” ungkapnya.
Salah satu sekolah yang mendapat prioritas rehabilitasi adalah SD Negeri Pendrikan Lor 02 Semarang. Terdapat empat ruangan yang mengalami kerusakan, yakni dua ruang kelas, ruang Unit Kesehatan Sekolah (UKS), dan perpustakaan.
Kondisi bangunan tersebut dipengaruhi usia konstruksi yang sudah cukup lama serta kerusakan pada sejumlah bagian akibat serangan rayap.
Demi menjaga keselamatan peserta didik, pihak sekolah terpaksa memindahkan kegiatan pembelajaran ke sejumlah ruangan lain.
Kepala SD Negeri Pendrikan Lor 02 Semarang, Dwi Hartiningsih, mengatakan kondisi kusen dan atap bangunan sudah cukup mengkhawatirkan.
“Kusen-kusennya hampir habis dimakan rayap dan atapnya sudah membahayakan. Kami terpaksa memindahkan anak-anak ke kelas lain, musala, bahkan belajar di luar ruangan agar tetap aman,” ujarnya.
Dwi menuturkan, renovasi besar terakhir di sekolah tersebut dilakukan pada era 1990-an. Sekolah kemudian sempat melakukan sejumlah perbaikan darurat menggunakan dana Bantuan Operasional Sekolah (BOS), tetapi keterbatasan anggaran membuat penanganan belum dapat dilakukan secara menyeluruh.
“Kami berharap rehabilitasi segera direalisasikan agar anak-anak bisa belajar dengan tenang tanpa rasa khawatir terhadap kondisi bangunan,” katanya.