Agustina menambahkan, banjir berdampak besar terhadap aktivitas warga, mulai dari ekonomi, lalu lintas, hingga pendidikan. “Banjir itu membuat kerugian ekonomi cukup parah. Kayaknya ini kalau banjir itu berarti warung-warung tutup. Orang mau belanja tidak bisa, orang mau sekolah saja macet. Maka ini prioritas utama,” katanya.
Untuk mendukung program ini, Pemkot Semarang melakukan efisiensi di sejumlah pos belanja, seperti pemotongan anggaran makan-minum, penghematan listrik dan Wi-Fi, serta pengurangan penggunaan ruang kerja.
Selain itu, pemerintah kota juga tengah melakukan simulasi aliran gorong-gorong dengan alat khusus untuk mendeteksi titik kemacetan sebelum puncak musim hujan yang diperkirakan terjadi pada Januari.
“Menurut BMKG, kita akan dapat curah hujan tinggi itu bulan Januari. Nah, sebelum kita mendapatkan itu lebih baik kan kita melakukan sebagaimana koreksi,” jelasnya.
Agustina menegaskan, meski banjir berpotensi terjadi setiap tahun, penanganan tetap harus dilakukan secara serius.
“Tantangannya, bagaimana supaya air yang datang baik dari Kabupaten/Kota kanan-kiri kita maupun dari atas, ketika datang itu segera hilang,” tandasnya.