Ia juga menyinggung pengalaman kelompok Wayang Orang yang sebelumnya direncanakan tampil di Rotterdam. Meski keberangkatan mereka tidak memperoleh izin, kelompok tersebut tetap tampil sesuai jadwal yang telah ditentukan.
“Tidak karu-karuan perasaan saya. Tetapi yang membahagiakan adalah mereka dengan semangat gegap gembira tetap bermain sesuai dengan schedule,” katanya.
Bagi Agustina, kejadian tersebut menjadi salah satu gambaran kuat mengenai rasa memiliki masyarakat terhadap kebudayaan Kota Semarang.
“Itulah gambaran warga Kota Semarang yang gotong royong bersatu dan kemudian merasa bahwa ini adalah milik kita. Sense of belonging-nya sangat luar biasa,” ujar Agustina.
Semangat kebersamaan tersebut juga menjadi bagian dari Festival Kota Lama XV 2026 yang mengusung tema "Unity in Diversity".
Agustina menyebut keberagaman telah menjadi bagian dari perjalanan Kota Semarang yang terbentuk melalui pertemuan berbagai kelompok masyarakat, tradisi, dan kebudayaan.
Sejumlah kegiatan di kawasan Kota Lama turut mempertemukan unsur budaya masa lalu dengan kehidupan masyarakat saat ini.
Salah satunya kegiatan merangkai janur yang melibatkan anak-anak untuk belajar membuat ketupat dan hiasan pengantin sekaligus mengenal filosofi di balik tradisi tersebut.
Agustina menilai keterlibatan generasi muda perlu terus diperkuat agar keberadaan Festival Kota Lama dapat berlanjut.
Menurutnya, kelestarian festival dan budaya di kawasan tersebut bergantung pada generasi yang mau mengenal, menikmati, serta memiliki kepedulian terhadap warisan yang ada.