“Target kami, sistem penyiraman otomatis ini diterapkan secara bertahap di seluruh pilar taman pusat kota dan taman aktif. Ini bentuk modernisasi pemeliharaan ruang hijau kita,” tambah Pipie.
Meski mampu membuat penyiraman lebih terjadwal, sistem tersebut tetap membutuhkan dukungan infrastruktur yang memadai.
Ketersediaan sumber air, pompa, sensor, hingga jaringan penyiraman harus dipastikan berfungsi dengan baik dan mendapat pemeliharaan rutin.
Dengan dukungan tersebut, sistem otomatis diharapkan dapat mengurangi berbagai kendala dalam penyiraman manual sehingga kondisi tanaman tetap sehat selama musim kemarau.
Agustina menilai inovasi tersebut merupakan bagian dari pengembangan konsep *Smart Park* yang terintegrasi dengan pembangunan Smart City Kota Semarang.
Menurutnya, penerapan teknologi harus diarahkan untuk menyelesaikan kebutuhan nyata dalam pengelolaan fasilitas publik.
“Pemanfaatan teknologi harus menjawab kebutuhan di lapangan. Taman kota harus tetap terawatt dan nyaman digunakan masyarakat, sekalipun kita menghadapi musim kemarau,” tuturnya.
Selain mengandalkan teknologi, Agustina meminta masyarakat turut menjaga taman dan berbagai fasilitas yang telah disediakan pemerintah.
“Teknologi membantu pemerintah merawat kota, tetapi keberlanjutannya butuh kepedulian bersama. Mari kita jaga taman-taman ini agar tetap asri, sejuk, dan nyaman untuk kita semua,” pungkasnya. (*)