Dengan lebih dari 151.000 anak usia dini dan lebih dari 1.200 satuan layanan PAUD, Kota Semarang telah menerapkan delapan indikator PAUD HI, di antaranya kelas orang tua, pemantauan tumbuh kembang anak, layanan gizi dan kesehatan, PHBS, pemberian makanan tambahan, verifikasi kepemilikan NIK, serta ketersediaan air bersih dan sanitasi yang layak.
Pendekatan ini menjadikan satuan PAUD di Semarang tidak hanya sebagai tempat belajar, tapi juga ruang aman dan sehat bagi anak untuk berkembang secara optimal.
Agustina juga menekankan pentingnya kolaborasi lintas sektor dalam membangun kota yang layak anak.
“Sebagai Bunda PAUD, saya yakin bahwa melalui gotong royong, inovasi, dan kemitraan yang kuat, kita bisa menciptakan masa depan yang lebih sehat dan adil bagi generasi penerus,” tegasnya.
Konferensi ARNEC ECD 2025 sendiri menyoroti pentingnya solusi lokal dalam layanan PAUD, agar menjangkau anak-anak yang selama ini terpinggirkan karena hambatan disabilitas, lokasi, gender, hingga status sosial ekonomi.
Ketua Dewan Direksi ARNEC, Dr. Sheldon Shaeffer, menekankan bahwa dengan solusi yang sesuai konteks lokal, pemerintah daerah mampu meningkatkan kualitas layanan PAUD secara signifikan.
Hal senada disampaikan Asisten Sekretaris Departemen Pendidikan Filipina, Roger B. Masapol, yang menegaskan bahwa masa depan bangsa dibentuk dari bagaimana anak-anak tumbuh hari ini.
Sementara itu, Diane Whitehead dari Childhood Education International mengingatkan pentingnya pendanaan berkelanjutan yang adil untuk memperkuat sistem layanan PAUD di level lokal.