“Kalau seluruh bus dan truk itu terelektrifikasi menjadi kendaraan listrik, ini bisa menghemat buat Indonesia sekitar 5 miliar dolar AS per tahun dari subsidi BBM,” ujarnya.
Anindya menambahkan, pengembangan kendaraan listrik komersial bukan hanya berorientasi bisnis, tetapi juga menjadi bagian dari upaya membangun industri otomotif berbasis listrik di dalam negeri.
Saat ini, tingkat komponen dalam negeri (TKDN) telah mencapai 40 persen pada 2025 dan ditargetkan mendekati 60 persen tahun ini.
Keberadaan fasilitas perakitan di Magelang diharapkan dapat memperkuat ekosistem kendaraan listrik di Jawa Tengah, sekaligus mendorong pertumbuhan industri pendukung dan investasi baru di sektor manufaktur.
Sementara itu, Pemerintah Provinsi Jawa Tengah juga telah menyiapkan berbagai dukungan untuk pengembangan kendaraan listrik berbasis baterai.
Di antaranya pembangunan 283 unit SPKLU di 179 titik di Jawa Tengah dan DIY, pemberian insentif pajak kendaraan, regulasi penggunaan kendaraan listrik, hingga penyiapan sumber daya manusia melalui pendidikan vokasi dan kejuruan. (*)