Saat itu juga, lampu merah akan berkedip dan sirine berbunyi—memberikan sinyal kepada masinis untuk segera menghentikan laju kereta.
“Inovasi ini menjadi langkah nyata dalam transformasi sistem keselamatan berbasis teknologi. Harapannya, sistem ini bisa menjadi standar baru di seluruh perlintasan sebidang,” tambah Franoto.
Semakin padatnya lalu lintas dan frekuensi perjalanan kereta api di kota besar seperti Semarang menjadikan sistem ini sangat relevan.
Tidak hanya mempercepat reaksi dalam situasi darurat, teknologi panic button juga mampu meminimalisir risiko kecelakaan fatal yang selama ini sering terjadi di perlintasan sebidang.
PT KAI terus memperkuat kolaborasi dengan instansi pusat, pemerintah daerah, dan masyarakat untuk meningkatkan kesadaran akan pentingnya tertib berlalu lintas di sekitar rel.
“Keselamatan merupakan tanggung jawab bersama. Kami akan terus menghadirkan inovasi demi perjalanan kereta yang aman dan nyaman serta keselamatan pengguna jalan,” tutup Franoto.