Sumarno menegaskan bahwa upaya pelestarian tradisi yang selama ini dilakukan oleh Kasunanan Surakarta maupun Pura Mangkunegaran sejalan dengan program Pemerintah Provinsi Jawa Tengah dalam menjaga serta mengembangkan kebudayaan daerah.
"Apa yang dilakukan teman-teman di Kasunanan maupun Mangkunegaran menjadi bagian dari program pemerintah Jawa Tengah juga. Karena itu kegiatan-kegiatan budaya seperti ini terus kita fasilitasi dan dukung," katanya.
Selain menjadi atraksi budaya yang dinantikan masyarakat, prosesi tersebut juga memiliki rangkaian tradisi lain yang menarik perhatian warga. Setelah kirab berakhir, banyak masyarakat menunggu momen pembagian air jamasan pusaka yang dipercaya membawa keberkahan. Tradisi ini menjadi bagian dari pelestarian budaya dan pengembangan ekonomi daerah yang terus dijaga dari tahun ke tahun.
Salah seorang warga, Marimin (54), mengaku sengaja datang untuk memperoleh air jamasan tersebut. Menurutnya, air yang digunakan untuk membersihkan pusaka memiliki nilai spiritual tersendiri bagi masyarakat yang mempercayainya.
"Tadi ambil air jamasan. Buat minum, mencari berkah dari sini," tuturnya.
Pelaksanaan kirab yang berlangsung khidmat dan tertib tersebut kembali menegaskan posisi Surakarta sebagai salah satu pusat pelestarian tradisi Jawa yang masih bertahan hingga kini. Tradisi budaya yang terus dijaga itu juga menjadi daya tarik tersendiri bagi masyarakat maupun wisatawan yang datang ke Surakarta untuk menyaksikan langsung rangkaian perayaan Malam 1 Suro.