Area tersebut dimanfaatkan untuk berbagai komoditas dan usaha, mulai dari kopi, alpukat, tanaman hortikultura, padi, perikanan, hingga peternakan ayam dan kambing.
Pengelolaan lahan juga didukung teknologi pertanian pintar yang melibatkan petani milenial. Tanaman kopi dan alpukat sekaligus dimanfaatkan sebagai bagian dari upaya konservasi untuk membantu mengurangi risiko erosi.
"Semua tersambung, campur baur, sehingga ujungnya masyarakat sejahtera, masyarakat tidak menganggur, serta lahannya terpakai," katanya.
Luthfi menilai kolaborasi tersebut dapat menjadi penggerak ekonomi masyarakat desa. Selain meningkatkan produktivitas lahan, program Revola diharapkan menjadi salah satu model pemberdayaan yang dapat mendukung upaya pengentasan kemiskinan.
Kepala Desa Susukan Hasyim Abdullah menyambut positif pelaksanaan Revola Jateng Optimis. Menurutnya, program tersebut memberikan kesempatan kepada warga untuk kembali memanfaatkan lahan yang sebelumnya tidak produktif.
Hasil pertanian dan peternakan dapat digunakan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari maupun dijual untuk menambah penghasilan. Sementara komoditas kopi dan alpukat juga memiliki fungsi sebagai tanaman konservasi.
"Revola ini juga memberdayakan masyarakat miskin yang ada di desa kami. Program ini kan baru berjalan sebulan, jadi untuk sementara hasil telur ayam akan dimanfaatkan sendiri, untuk peningkatan gizi, ke depannya akan meningkatkan pendapatan bagi keluarga miskin," ujarnya.
Perwakilan petani Desa Susukan Nur Fauzi mengatakan program tersebut membantu warga mengolah kembali lahan yang selama sekitar 12 tahun tidak dimanfaatkan secara optimal.
Lahan bekas tanaman teh kini mulai dialihkan untuk pengembangan kopi, alpukat, dan berbagai tanaman hortikultura.
"Saya ikut ternak kambing, ayam, perikanan, dan lainnya. Saya juga menanam kopi, alpukat, dan holtikultura seperti cabai terong hingga padi," ujarnya.