Konten Semarang
Semarang

Pakuwon Group Komitmen Perbaiki 14 Rumah Warga Terdampak Proyek Gombel

Pakuwon Group memastikan 14 rumah warga terdampak proyek di Gombel akan diperbaiki bertahap sesuai kondisi dan kesiapan pemilik rumah.

Pakuwon Group Komitmen Perbaiki 14 Rumah Warga Terdampak Proyek Gombel
Pakuwon Group Komitmen Perbaiki 14 Rumah Warga Terdampak Proyek Gombel

KONTENSEMARANG.COMPakuwon Group memastikan akan bertanggung jawab terhadap dampak pembangunan Pakuwon Mall di kawasan Gombel, Kota Semarang, khususnya kerusakan pada rumah warga di sekitar proyek. 

Sebanyak 14 rumah yang terdampak akan diperbaiki secara bertahap dengan menyesuaikan kesiapan masing-masing pemilik rumah.

General Affair Pakuwon Group Iful Novianto mengatakan, kunjungan tim ke permukiman warga pada Rabu 12 Agustus 2026 menjadi tahap ketiga dalam proses penanganan rumah terdampak.

Kunjungan tersebut dilakukan bersama sejumlah instansi terkait untuk memastikan proses perbaikan dapat segera berjalan.

"Kunjungan pertama kita survei awal untuk melihat kondisi 14 rumah tersebut. Survei kedua, kita membawa para vendor atau mandor untuk menghitung metode dan estimasi biaya perbaikan. Karena di perusahaan kami ada mekanisme tender, proses tersebut membutuhkan waktu sekitar satu bulan. Nah, hari ini adalah kunjungan ketiga untuk silaturahmi sekaligus menyampaikan bahwa mandor kami sudah siap. Sekarang tinggal menyesuaikan kapan warga siap rumahnya diperbaiki," kata Iful disela-sela kunjungan ke beberapa rumah warga terdampak proyek Pakuwon Mall Semarang, Rabu 12 Agustus 2026.

Iful menjelaskan, waktu pengerjaan tidak ditentukan secara sepihak karena pihaknya mempertimbangkan kondisi masing-masing warga. Pemilik rumah dapat menentukan waktu perbaikan sesuai situasi keluarga mereka.

"Ada warga yang minta ditunda dulu karena sedang berduka, ya kami tunggu sampai 7 atau 40 harinya selesai. Namun ada juga yang siap besok, ya langsung kami kerjakan. Hingga saat ini sudah ada empat warga yang menandatangani kesepakatan perbaikan," imbuhnya.

Menurut Iful, tingkat kerusakan pada 14 rumah tersebut secara umum berada pada kategori minor hingga mendekati major.

Kerusakan yang ditemukan antara lain berupa retakan pada sejumlah bagian dinding yang berkaitan dengan karakteristik kawasan Gombel yang merupakan wilayah dengan kondisi tanah bergerak.

Penanganan yang disiapkan tidak hanya berupa perbaikan permukaan atau touch up. Untuk dinding yang mengalami retak, tim akan melakukan penanganan dengan membuka bagian yang terdampak, memperkuat atau menjahit struktur dinding, kemudian melakukan pengecoran kembali agar konstruksinya lebih kuat.

Kerusakan kategori minor umumnya berupa retakan fisik pada dinding. Sementara kerusakan yang masuk kategori major dapat berkaitan dengan struktur bangunan, seperti lantai yang bergeser hingga pintu yang sulit atau tidak dapat dibuka.

“Tim memprioritaskan penanganan retakan agar tidak membesar menjadi kerusakan mayor,” ujarnya.

Iful menambahkan, Pakuwon Group telah melakukan pemetaan kondisi bangunan di sekitar lokasi sebelum proyek dimulai.

Pemetaan tersebut dilakukan bekerja sama dengan Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) untuk mendokumentasikan kondisi bangunan dalam radius 150 meter dari area proyek.

"Kami sebenarnya memiliki buku panduan kondisi awal seluruh rumah dalam radius 150 meter yang sudah difoto dan didokumentasikan. Jadi kalau ada komplain retak, kami bisa cek apakah retakan itu sudah ada dari dulu lalu melebar, atau baru. Namun kami tidak ingin memperdebatkan siapa yang benar atau salah. Prinsipnya, selama ada keluhan dari warga, kami komitmen turun tangan untuk memperbaiki," tegas Iful.

Dengan proyek mixed-use yang diperkirakan berlangsung selama tiga hingga empat tahun, Pakuwon Group menyatakan akan terus membuka komunikasi dengan masyarakat melalui pengurus RT dan RW setempat. Setiap keluhan terkait dampak pembangunan akan ditindaklanjuti sesuai kondisi di lapangan.

Meski demikian, perusahaan belum menyiapkan skema kompensasi berupa ganti untung maupun pembelian tanah warga.

Fokus yang dilakukan saat ini adalah menangani kerusakan rumah dan memastikan komunikasi dengan masyarakat tetap berjalan selama proses pembangunan.

“Opsi ganti untung belum ada dalam skema kami, tapi kami berkomitmen segera menindaklanjuti keluhan warga terkait dengan kerusakan rumah akibat proyek ini,” tegasnya. (*)

Baca Juga Otomatis

Rekomendasi berdasarkan kategori dan tag berita ini.

Menampilkan semua halaman artikel.

Artikel Selanjutnya

DLH Semarang Siapkan TPA Jatibarang Jadi Pilot Project Pirolisis Sampah
Semarang • 13 Agustus 2026

DLH Semarang Siapkan TPA Jatibarang Jadi Pilot Project Pirolisis Sampah

Rekomendasi Redaksi