โIndonesia itu adalah rakyat yang majemuk. Puasa itu mengajarkan akhlak dan budi pekerti yang luhur,โ ujarnya.
Ia juga mengingatkan bahwa perbedaan seharusnya menjadi sarana untuk saling mengenal dan menghargai.
โLitaโarafu, untuk saling mengenal, saling menghormati, saling menghargai, bukan untuk saling bertengkar,โ kata Sinta.
Menurutnya, nilai kejujuran, keadilan, kesabaran, keikhlasan, dan saling menghormati menjadi fondasi penting agar masyarakat dapat hidup berdampingan secara damai.
Kegiatan tersebut dihadiri unsur Forkopimda, tokoh lintas agama, serta komunitas disabilitas. Suasana kebersamaan yang tercipta mencerminkan ruang sosial Kota Semarang yang inklusif dan terbuka bagi semua.
Melalui momentum ini, Pemkot Semarang kembali menegaskan bahwa toleransi dan inklusivitas menjadi bagian dari arah pembangunan kota sebagai rumah bersama. (*)