"Ijazah itu hak anak, bukan barang jaminan. Saya minta sekolah-sekolah untuk tidak menahan ijazah muridnya. Kalau ada masalah biaya, kita cari solusi bersama. Yang penting anak bisa melanjutkan masa depannya," tegas Wali Kota.
Dalam bidang peningkatan kualitas, pemkot membangun 43 ruang kelas baru SD dan 24 ruang kelas baru SMP, serta memperbaiki ratusan ruang kelas lainnya.
Program literasi, numerasi, dan berbagai kompetisi olahraga, seni, serta inovasi juga digelar untuk mendukung pengembangan bakat siswa.
"Belajar tidak bisa maksimal kalau ruang kelasnya bocor, bangkunya rusak, dan catnya kusam. Kami benahi satu per satu agar anak-anak betah di sekolah," jelas Agustina.
Data 2025 menunjukkan Indeks Pembangunan Manusia (IPM) Kota Semarang mencapai 85,80, tertinggi di Jawa Tengah, dengan rata-rata lama sekolah 11,11 tahun.
Angka putus sekolah tercatat 0 persen di tingkat SD/MI dan 0,01 persen di tingkat SMP/MTs.
Memasuki 2026, pemkot menargetkan perluasan sekolah swasta gratis menjadi 135 sekolah, peningkatan penerima beasiswa, pembangunan infrastruktur lanjutan, serta penyelenggaraan berbagai kompetisi pelajar.
"Tahun depan kita kejar target yang lebih tinggi. Tidak boleh ada anak Semarang yang tidak sekolah karena alasan biaya. Semua harus mendapat akses pendidikan yang layak. Ini janji kami kepada warga Semarang," tegas Agustina.
Menutup pernyataannya, Agustina menegaskan pentingnya pendidikan sebagai fondasi pembangunan kota.
"Pendidikan adalah fondasi dari segalanya. Dari generasi cerdas, kita bangun kesehatan. Dari generasi sehat, kita wujudkan kemakmuran. Dari kemakmuran, kita ciptakan kota yang tangguh. Semuanya berawal dari Semarang Cerdas." (*)