βTahun Baru Hijriah mengajarkan semangat hijrah menuju kebaikan, sementara Satu Suro mengajak kita melakukan refleksi. Keduanya mengingatkan pentingnya memperbaiki diri, memperkuat persaudaraan, dan menata masa depan bersama,β tuturnya.
Lebih lanjut, Agustina menegaskan bahwa Pemerintah Kota Semarang berkomitmen menjaga ruang kebersamaan agar seluruh warga dapat hidup berdampingan secara harmonis. Menurutnya, kondisi tersebut menjadi landasan penting dalam mewujudkan pembangunan yang inklusif dan memberikan manfaat bagi seluruh lapisan masyarakat.
βKota yang maju bukan hanya kota yang infrastrukturnya baik, tetapi juga kota yang masyarakatnya rukun. Kerukunan, toleransi, gotong royong, dan kepedulian sosial adalah energi yang membuat Semarang semakin hebat, semakin membahagiakan, dan semakin terbuka bagi siapa saja,β tegasnya.
Pada penghujung acara, masyarakat yang hadir disuguhi pagelaran wayang kulit dengan lakon Ngamarta Binangun. Agustina menilai pesan yang terkandung dalam cerita tersebut sejalan dengan semangat pembangunan yang tengah dibangun di Kota Semarang.
Menurutnya, lakon tersebut mengajarkan bahwa kemajuan hanya dapat diwujudkan melalui kolaborasi, kebersamaan, dan kesediaan menempatkan kepentingan bersama di atas kepentingan pribadi.
βLakon ini mengajarkan bahwa kemajuan hanya dapat dicapai melalui kebersamaan, kolaborasi, dan kesediaan menempatkan kepentingan bersama di atas kepentingan pribadi. Semangat itulah yang terus kita bangun di Kota Semarang,β ujarnya.
Melalui momentum pergantian tahun tersebut, Agustina mengajak seluruh masyarakat untuk terus merawat kerukunan, menjaga kebersihan dan keindahan lingkungan, serta memperkuat rasa memiliki terhadap Kota Semarang. Ia berharap pentingnya menjaga persaudaraan dan kehidupan harmonis di Semarang dapat terus menjadi bagian dari kehidupan warga demi mewujudkan kota yang aman, nyaman, dan semakin maju dengan semangat gotong royong.