“Perguruan tinggi yang berdampak adalah perguruan tinggi yang mampu menerjemahkan temuan jurnal menjadi aksi nyata di lapangan,” ujar Supari.
Ia menambahkan, transformasi perguruan tinggi harus dilakukan secara internal maupun eksternal. Reformasi kurikulum menjadi langkah penting agar lulusan tetap relevan dengan kebutuhan era industri 4.0 dan 5.0. Pembelajaran diarahkan berbasis proyek, interdisipliner, serta mengintegrasikan teknologi digital dan kecerdasan buatan.
Di sisi eksternal, perguruan tinggi berperan sebagai penggerak transformasi wilayah melalui penelitian, inovasi, dan pengembangan ekosistem ekonomi berbasis pengetahuan.
Untuk memperkuat dampak tersebut, USM aktif menjalin kemitraan dengan model Triple Helix (Pemerintah–Industri–Akademisi) dan Quadruple Helix yang melibatkan masyarakat.
“Perguruan tinggi adalah investasi terbesar suatu bangsa. Dengan dampak yang kuat, transformasi berkelanjutan, dan kolaborasi strategis, perguruan tinggi dapat menjadi pusat peradaban yang mendukung kemajuan masyarakat,” tegasnya.