Ia juga menyoroti besarnya potensi ekonomi digital yang dapat berkembang apabila infrastruktur pendukung tersedia hingga tingkat desa.
Pelaku UMKM, petani, nelayan dan pelaku usaha lokal dinilai akan memiliki peluang yang lebih besar untuk menjangkau pasar yang lebih luas melalui platform digital.
“Banyak produk lokal yang sebenarnya memiliki kualitas baik. Namun tanpa dukungan akses digital yang memadai, peluang untuk memperluas pasar dan meningkatkan nilai tambah menjadi terbatas,” ujarnya.
Dalam hal ini, Heri mendorong pemerintah daerah untuk terus memperkuat sinergi dengan pemerintah pusat, operator telekomunikasi, serta berbagai pemangku kepentingan dalam memperluas dan meningkatkan kualitas jaringan internet, terutama di wilayah yang masih menghadapi keterbatasan akses.
Ia juga menekankan bahwa pembangunan infrastruktur digital perlu dibarengi dengan peningkatan literasi digital masyarakat agar teknologi dapat dimanfaatkan secara produktif dan bertanggung jawab.
“Jangan sampai infrastruktur sudah tersedia, tetapi masyarakat belum siap memanfaatkannya secara optimal. Karena itu pembangunan fisik dan peningkatan kapasitas sumber daya manusia harus berjalan beriringan,” katanya.
Menurut Heri, keberhasilan transformasi digital tidak hanya ditentukan oleh teknologi yang dimiliki, tetapi juga oleh kemampuan masyarakat dalam memanfaatkan teknologi tersebut untuk meningkatkan kualitas hidup dan kesejahteraan.
“Jawa Tengah memiliki potensi besar untuk berkembang melalui ekonomi dan layanan berbasis digital. Karena itu, pembangunan infrastruktur digital harus menjadi investasi jangka panjang yang mampu membuka lebih banyak kesempatan bagi masyarakat di seluruh daerah,” pungkasnya. (*)