Konten Semarang
Ekonomi

Modal Awal Mahal, Taj Yasin Cari Terobosan Pembiayaan Hijau untuk IKM

Taj Yasin mencari terobosan pembiayaan hijau untuk IKM Jawa Tengah karena biaya teknologi ramah lingkungan sangat mahal dan agunan terbatas.

Wakil Gubernur Jawa Tengah Taj Yasin Maimoen
Wakil Gubernur Jawa Tengah Taj Yasin Maimoen

KONTENSEMARANG.COM – Wakil Gubernur Jawa Tengah Taj Yasin Maimoen mendorong adanya terobosan agar pembiayaan hijau dapat lebih mudah dijangkau oleh Industri Kecil dan Menengah (IKM) di Jawa Tengah.

Menurut Taj Yasin, kebutuhan modal awal untuk menerapkan teknologi yang ramah lingkungan masih menjadi salah satu kendala bagi IKM. Di sisi lain, kemampuan pelaku IKM dalam menyediakan agunan juga relatif terbatas, sementara penerapan teknologi ramah lingkungan membutuhkan biaya yang tidak sedikit.

“Industri kecil ini, IKM ini rata-rata agunannya juga kecil, sementara untuk melaksanakan industri ramah membutuhkan biaya yang besar,” kata Taj Yasin.

Pernyataan tersebut disampaikan Taj Yasin ketika mewakili Gubernur Jawa Tengah Ahmad Luthfi sebagai keynote speech dalam Focus Group Discussion (FGD) Kolaborasi Strategis bertema “Mengurai Hambatan Pembiayaan Hijau pada Sektor Industri Kecil dan Menengah”.

Kegiatan yang diselenggarakan oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Jawa Tengah tersebut berlangsung di Gedung Gradhika Bhakti Praja, Semarang, Senin, 28 September 2026.

Tokoh yang akrab disapa Gus Yasin itu menjelaskan bahwa penerapan teknologi hijau sebenarnya dapat memberikan manfaat berupa efisiensi biaya operasional dalam jangka panjang. Namun, manfaat tersebut tidak dapat langsung dirasakan karena membutuhkan waktu, sedangkan kebutuhan modal untuk memulai penerapan teknologi harus dipenuhi sejak awal.

Atas kondisi tersebut, Taj Yasin meminta agar pembahasan dalam FGD tidak hanya berakhir sebagai forum diskusi. Ia berharap pertemuan tersebut mampu menghasilkan langkah konkret berupa skema atau pembiayaan hijau untuk IKM Jawa Tengah yang sesuai dengan karakteristik dan kemampuan pelaku industri kecil dan menengah.

“Ini yang harus kita dorong bersama-sama dan kita carikan terobosan-terobosan,” katanya.

Taj Yasin menilai pembahasan mengenai pembiayaan hijau menjadi penting karena sektor industri merupakan salah satu kekuatan utama dalam struktur perekonomian Jawa Tengah.

Pada triwulan II 2026, ekonomi Jawa Tengah tercatat tumbuh sebesar 5,71 persen secara tahunan. Angka tersebut lebih tinggi dibandingkan pertumbuhan ekonomi nasional yang berada di level 5,29 persen.

Sementara secara kumulatif, pertumbuhan ekonomi Jawa Tengah pada semester pertama 2026 mencapai 5,80 persen.

Dari sejumlah sektor yang menopang perekonomian daerah, industri memberikan kontribusi terbesar, yakni sebesar 33,18 persen. Setelah sektor industri, kontribusi terbesar berikutnya berasal dari sektor perdagangan sebesar 13,78 persen dan sektor pertanian sebesar 12,56 persen.

Besarnya kontribusi sektor industri tersebut menjadi salah satu alasan pentingnya mendorong produktivitas sekaligus keberlanjutan sektor tersebut. Menurut Taj Yasin, pertumbuhan ekonomi tidak cukup hanya dipertahankan dari sisi angka, tetapi juga perlu menghasilkan manfaat yang lebih luas.

“Kita tidak cukup hanya berbicara bagaimana mempertahankan pertumbuhan, kita juga harus berbicara tentang bagaimana pertumbuhan tersebut mampu menciptakan produktivitas yang lebih tinggi, daya saing yang lebih kuat, lapangan kerja yang semakin berkualitas dan keberlanjutan ekonomi dalam jangka panjang,” kata Taj Yasin.

Sementara itu, Direktur Pengawasan Perilaku Pelaku Usaha Jasa Keuangan, Edukasi, Pelindungan Konsumen dan Layanan Manajemen Strategis OJK Provinsi Jawa Tengah, Taufik Andriawan, mengatakan pembiayaan hijau dibutuhkan sebagai bagian dari upaya memitigasi risiko krisis lingkungan.

Selain itu, pembiayaan tersebut juga dinilai diperlukan untuk mendukung arah pembangunan Jawa Tengah periode 2025-2030.

Taufik menjelaskan bahwa sektor perbankan di Jawa Tengah memberikan dukungan terhadap pembiayaan hijau. Dukungan tersebut dilakukan melalui penyaluran kredit kepada berbagai sektor yang memiliki potensi dalam mendukung pembiayaan hijau.

Meski demikian, Taufik menyebut jumlah pihak yang mengajukan kredit untuk sektor tersebut hingga saat ini masih relatif kecil. Kondisi itu menunjukkan masih perlunya upaya bersama untuk meningkatkan akses pembiayaan hijau bagi pelaku industri.

Dalam konteks tersebut, pengembangan teknologi ramah lingkungan untuk industri kecil membutuhkan keterlibatan berbagai pihak. Taufik menyampaikan bahwa peningkatan pembiayaan hijau tidak dapat dilakukan hanya oleh satu institusi, melainkan memerlukan kolaborasi lintas sektor.

Kolaborasi tersebut melibatkan pemerintah, OJK, Bank Indonesia, industri jasa keuangan, akademisi, pakar lingkungan, serta para pelaku industri.

Menurut Taufik, sinergi antarpemangku kepentingan diperlukan untuk memperbesar potensi pembiayaan hijau di Jawa Tengah sekaligus mendorong semakin banyak sektor industri memperoleh akses terhadap pembiayaan tersebut.

“Diperlukan sinergi dan kolaborasi dari seluruh stakeholders untuk meningkatkan potensi pembiayaan hijau di Jawa Tengah,” kata Taufik.(*)

Baca Juga Otomatis

Rekomendasi berdasarkan kategori dan tag berita ini.

Menampilkan semua halaman artikel.

Artikel Selanjutnya

PLN Icon Plus Paparkan Inovasi Digital dalam Rapat Kerja Direktorat Distribusi 2026
Ekonomi • 24 September 2026

PLN Icon Plus Paparkan Inovasi Digital dalam Rapat Kerja Direktorat Distribusi 2026

Rekomendasi Redaksi