Dari penelitian tersebut, Arief merumuskan Urban-Spiritual Resonance Model yang memadukan strategi pemasaran modern dengan nilai spiritual madrasah.
Model tersebut menghasilkan empat tipologi, yakni Professional-Premium, Balanced-Moderate, Achievement-Inclusive, dan Grassroots-Authentic.
"Setiap madrasah tidak harus menjadi sama. Mereka dapat memilih model yang paling sesuai dengan karakter masyarakat, lingkungan, dan kekuatan yang dimiliki masing-masing," tegasnya.
Arief juga menyelesaikan sebagian disertasinya ketika mendampingi sang ibu yang menjalani perawatan di RSUP Dr. Kariadi Semarang. Sang ibu kemudian meninggal dunia setahun sebelum dirinya menjalani promosi doktor.
"Doktor ini bukan hanya milik saya. Ada doa, pengorbanan, dan perjuangan ibu saya, perempuan hebat hebat yang tak lulus Madrasah Aliyah dan memeras keringat demi pendidikan anak-anaknya," katanya sambil berkaca-kaca.
Direktur Pascasarjana UIN Walisongo Semarang, Prof. Dr. Muhyar Fanani, M.Ag., menilai Arief sebagai sosok pembelajar yang memiliki kemampuan menulis kuat.
"Dr. Arief adalah seorang pembelajar sejati. Setiap langkahnya dapat dijadikannya sebagai media belajar. Saya teringat dengan perkataan almarhum Prof. Satjipto Rahardjo bahwa seorang intelektual itu berbicara dengan pena. Dr. Arief benar-benar mempraktikkan hal ini," ujar Prof. Muhyar.
"Kemampuan menulisnya di atas rata-rata mahasiswa kami," tegasnya. (*)