Konten Semarang
Pendidikan

Mantan Loper Koran Raih Doktor UIN Walisongo, Arief Buktikan Pendidikan Tanpa Batas

Mantan loper koran Moh. Miftahul Arief meraih doktor UIN Walisongo dengan penelitian strategi pemasaran madrasah di masyarakat perkotaan.

Mantan Loper Koran Raih Doktor UIN Walisongo, Arief Buktikan Pendidikan Tanpa Batas
Mantan Loper Koran Raih Doktor UIN Walisongo, Arief Buktikan Pendidikan Tanpa Batas

KONTENSEMARANG.COM – Moh. Miftahul Arief, guru MI Miftahul Akhlaqiyah Ngaliyan, Semarang, resmi meraih gelar Doktor Studi Islam dari UIN Walisongo Semarang setelah mempertahankan disertasinya dalam Ujian Terbuka Promosi Doktor, Rabu (30/9/2026).

Arief dinyatakan lulus dengan nilai disertasi 3,98. Ujian tersebut dipimpin Rektor UIN Walisongo Semarang, Prof. Dr. H. Musahadi, M.Ag.

"Kepadanya diberi gelar Doktor Studi Islam, dan merupakan doktor ke-456 yang telah diluluskan oleh UIN Walisongo," kata Prof. Musahadi.

Capaian tersebut menjadi perjalanan panjang bagi Arief. Sebelum menjadi guru dan meraih gelar doktor, ia pernah bekerja sebagai loper koran di kawasan Kalibanteng Semarang saat masih kuliah. Setelah menjadi guru pada 2005, ia juga bekerja di outlet Gramedia Pandanaran hingga malam hari.

"Saat menjadi guru MI, pagi mengajar, siang hingga malam menjaga outlet di Gramedia Pandanaran. Saat itu yang saya pikirkan sederhana, bagaimana tetap bisa belajar sambil bekerja," kenang pengurus MUI Kota Semarang itu.

Arief kemudian dipercaya menjadi Kepala MI Miftahul Akhlaqiyah pada 2010-2022 dan mendapat penghargaan sebagai Kepala Madrasah Berprestasi dari Kementerian Agama Kota Semarang pada 2020. Ia juga mendirikan Bimbingan Belajar AIO serta aktif sebagai jurnalis.

"Alhamdulillah, saya mendirikan Bimbel AIO atau dikenal orang Aioprivat karena basic saya guru dan memiliki pengalaman manajerial pendidikan, ya itung-itung berbisnis sekaligus penyaluran skil," bebernya.

Disertasi Arief berjudul Urban Marketing: Strategi Pemasaran Madrasah Ibtidaiyah (MI) pada Masyarakat Perkotaan. Penelitian dilakukan di empat MI di Kota Semarang untuk melihat faktor yang memengaruhi masyarakat dalam memilih madrasah.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa masyarakat perkotaan tidak hanya mempertimbangkan faktor agama dan jarak, tetapi juga mutu pendidikan, pelayanan, keamanan, komunikasi, serta reputasi madrasah.

"Saya menemukan bahwa masyarakat perkotaan tidak lagi memilih madrasah hanya karena faktor agama atau kedekatan lokasi. Mereka juga mempertimbangkan mutu, pelayanan, keamanan, komunikasi, dan reputasi lembaga," ungkapnya.

Baca Juga Otomatis

Rekomendasi berdasarkan kategori dan tag berita ini.

Halaman 1 dari 2

Artikel Selanjutnya

Dies Natalis ke-65 FK Undip, Pimpinan KPK Dorong Dokter Perkuat Integritas Profesi
Pendidikan • 01 Oktober 2026

Dies Natalis ke-65 FK Undip, Pimpinan KPK Dorong Dokter Perkuat Integritas Profesi

Rekomendasi Redaksi