Sedekah Laut Tambak Lorok 2026, Agustina Ajak Warga Jaga Harmoni Laut dan Manusia

Sedekah Laut Tambak Lorok 2026 berlangsung meriah dengan 400 kapal nelayan dan pesan Agustina soal harmoni manusia dan laut.

Sedekah Laut Tambak Lorok 2026, Agustina Ajak Warga Jaga Harmoni Laut dan Manusia
Sedekah Laut Tambak Lorok 2026 berlangsung meriah dengan 400 kapal nelayan dan pesan Agustina soal harmoni manusia dan laut.

KONTENSEMARANG.COM – Tradisi Sedekah Laut dan Bumi Tambaklorok 2026 kembali digelar meriah di kawasan pesisir utara Kota Semarang, Minggu (10/5). Sekitar 400 kapal nelayan memenuhi perairan Tambak Lorok dalam prosesi puncak acara yang menjadi simbol rasa syukur masyarakat atas hasil laut sekaligus bentuk penghormatan terhadap alam.

Wali Kota Semarang, Agustina Wilujeng, hadir langsung mengikuti rangkaian tradisi tahunan tersebut. Menurutnya, sedekah laut bukan sekadar agenda budaya, melainkan bentuk hubungan timbal balik antara manusia dan laut yang selama ini menjadi sumber kehidupan masyarakat pesisir.

“Ini adalah bakti kita kepada laut dan kita minta laut untuk menjaga kita, menjadi sumber rezeki bagi kita dan berharap bahwa laut dan manusia bisa sinergi saling membantu membawa ketenangan, ketentraman, dan kesejahteraan,” ujarnya.

Tradisi Sedekah Laut dan Bumi Tambaklorok tahun ini mengangkat tema Nguri-uri Kabudayan dan Pelestarian Tradisi. Kegiatan diawali dengan doa arwah jama’, khataman Al-Qur’an, serta malam tirakatan yang digelar di Tempat Pelelangan Ikan (TPI) Tambaklorok pada Sabtu (9/5).

Memasuki puncak acara, masyarakat menggelar kirab kepala kerbau mengelilingi kampung sebelum dilanjutkan prosesi larung sesaji ke tengah laut. Prosesi tersebut dilakukan menggunakan kapal TNI AL bersama Wali Kota Semarang dan para nelayan.

Suasana perayaan semakin semarak dengan pagelaran wayang kulit semalam suntuk yang menjadi bagian dari pelestarian budaya Jawa di kawasan pesisir. Rangkaian kegiatan dijadwalkan ditutup dengan pengajian akbar pada Senin (11/5).

Dalam sambutannya, Agustina memberikan apresiasi kepada masyarakat nelayan Tambak Lorok yang tetap menjaga warisan budaya leluhur di tengah perkembangan kawasan pesisir yang semakin modern.

“Tradisi ini adalah bukti bahwa masyarakat tidak pernah lupa pada akarnya. Larung sesaji ini menjadi cerita tentang budaya, tentang karya, karsa, dan rasa. Dan ini adalah ucapan syukur kepada Gusti Pangeran atas limpahan dan keberkahan dari laut,” katanya.

Ia juga menegaskan bahwa tradisi sedekah laut memiliki pesan penting mengenai pelestarian lingkungan laut. Menurutnya, masyarakat perlu terus menjaga keseimbangan ekosistem pesisir, terutama di tengah kondisi cuaca yang belakangan semakin sulit diprediksi.

Pemerintah Kota Semarang berharap tradisi Sedekah Laut Tambak Lorok terus menjadi perekat solidaritas masyarakat pesisir sekaligus pengingat bahwa pembangunan kawasan maritim harus berjalan beriringan dengan pelestarian budaya dan keselamatan para nelayan.