KONTENSEMARANG.COM – Disabilitas masih menghadapi berbagai tantangan dalam dunia kerja di Indonesia. Stigma sosial dan terbatasnya akses kesempatan kerja membuat banyak penyandang disabilitas kesulitan memperoleh pekerjaan yang layak. Di tengah kondisi tersebut, hadirnya ruang kerja yang ramah dan terbuka menjadi harapan bagi mereka yang selama ini kerap terpinggirkan.
Salah satu contoh nyata hadir di Semarang melalui Wasabi Sushi Ramen. Restoran yang dikenal dengan sajian kuliner Jepang autentik ini tidak hanya melayani pelanggan, tetapi juga menjadi wadah pemberdayaan dan Inklusi Sosial bagi para pekerja disabilitas.
Di balik konsep tersebut terdapat sosok Enday Nugroho. Sebagai seorang ibu yang memiliki anak penyandang disabilitas, ia memahami secara langsung berbagai tantangan yang dihadapi kelompok tersebut. Pengalaman itu mendorongnya membuka kesempatan kerja bagi penyandang disabilitas yang kerap mengalami hambatan dalam memperoleh pekerjaan.
Suasana hangat yang dirasakan pelanggan di Wasabi Sushi Ramen tidak hanya berasal dari dekorasi bernuansa Jepang yang khas. Kehangatan itu juga tercermin dari pelayanan para pekerja disabilitas yang menjalankan tugas mereka dengan baik dan penuh semangat.
Secara konsisten, Wasabi Sushi Ramen mempekerjakan penyandang disabilitas, terutama mereka yang telah memasuki usia dewasa. Menurut Bu Enday, kelompok usia tersebut sering kali menghadapi kesulitan lebih besar dalam mendapatkan pekerjaan meski memiliki kemampuan yang memadai.
Banyak dari mereka akhirnya tersisih bukan karena tidak mampu bekerja, melainkan akibat stigma yang masih melekat di masyarakat serta minimnya kesempatan yang tersedia. Kondisi itulah yang mendorong Bu Enday membangun usaha kuliner yang sekaligus menjadi ruang pemberdayaan.
Ia meyakini bahwa setiap individu memiliki hak yang sama untuk berkembang dan mandiri, tanpa memandang kondisi fisik maupun mental. Karena itu, restoran yang dikelolanya tidak hanya berorientasi pada bisnis, tetapi juga berupaya memberikan manfaat sosial yang nyata.
Pengalaman sebagai orang tua dari anak penyandang disabilitas membuat Bu Enday memahami berbagai hambatan yang dihadapi kelompok tersebut. Dari pemahaman itu muncul keinginan untuk menghadirkan peluang kerja bagi penyandang disabilitas dewasa yang selama ini sulit memperoleh akses pekerjaan yang layak.
Menurutnya, setiap penyandang disabilitas memiliki potensi yang dapat berkembang apabila diberikan kesempatan dan dukungan yang tepat.
"Wasabi merangkul teman-teman difabel untuk belajar dan berkontribusi dalam dunia kerja yang adil dan setara. Kami ingin mereka merasakan kemandirian dan kebanggaan atas apa yang mereka capai," ujar Bu Enday.